Trending

Mahasiswa UNEJ Gagas Riset Perubahan Tutupan Lahan Sidoarjo hingga 2030

Mahasiswa UNEJ Gagas Riset Perubahan Tutupan Lahan Sidoarjo hingga 2030
Tiga mahasiswa Ilmu Tanah UNEJ—Wildan Dwi Ananda, Rani Nur Faradila, dan Virga Ristina Safitri—mengembangkan model prediksi spasial berbasis Geographic Information System (GIS) dan penginderaan jauh untuk memeta dinamika tutupan lahan. (foto: Humas unej)

Jember-Spektroom : Tiga mahasiswa Ilmu Tanah Universitas Jember (UNEJ)— mengembangkan model prediksi spasial berbasis Geographic Information System (GIS) dan penginderaan jauh untuk memeta dinamika tutupan lahan di wilayah kabupaten Sidoarjo. Mereka adalah Wildan Dwi Ananda, Rani Nur Faradila, dan Virga Ristina Safitri, melihat potensi ancaman ketahanan pangan serta keseimbangan ekosistem pada tahun 2030 akibat laju alih fungsi lahan pertanian dan ruang hijau.

Gagasan tersebut muncul setelah melihat kondisi Sidoarjo yang mengalami perkembangan cukup pesat. Dari sanalah, keberadaan lahan pertanian dan vegetasi menjadi bagian yang perlu diperhatikan.

Awalnya, tim mencoba melihat pola perubahan tutupan lahan yang telah terjadi sekaligus memprediksi kemungkinan perubahan pada masa mendatang. Saat itu, tim memanfaatkan citra Landsat tahun 2015, 2020, dan 2025. Data tersebut dianalisis menggunakan metode Supervised Classification dengan algoritma Maximum Likelihood Classification (MLC) untuk mengetahui perubahan tutupan lahan yang terjadi. Setelah memperoleh pola perubahan, tim kemudian menggunakan model Cellular Automata-Markov (CA-Markov) melalui perangkat MOLUSCE untuk memprediksi kondisi tutupan lahan Kabupaten Sidoarjo pada tahun 2030.

“Jadi, solusi yang kami tawarkan bukan hanya melihat perubahan yang sudah terjadi, tetapi mencoba memberikan gambaran spasial mengenai bagaimana perubahan tersebut berpotensi terjadi ke depan,” jelas Wildan, dikutip dari humas Unej Senin (12/10/2026).

Wildan Dwi Ananda, Rani Nur Faradila, dan Virga Ristina Safitri, mahasiswa UNEJ, Juara Harapan 1 The Landformation 2026

Penggunaan GIS dalam penelitian tersebut memberikan pengalaman baru dalam melihat fungsi teknologi geospasial yang tidak hanya digunakan untuk menghasilkan peta, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk membaca pola perubahan suatu wilayah dan membuat pemodelan yang memberikan gambaran mengenai kondisi di masa mendatang.

Menurut Wildan, perasaan campur aduk muncul ketika ia dan tim harus mempresentasikan hasil gagasan ini di hadapan dewan juri pada ajang The Landformation 2026, 12 September 2026 lalu. Sebelum berangkat, tim tidak melakukan persiapan khusus dalam waktu yang panjang. Ketika mengetahui berhasil menjadi finalis, mereka justru lebih banyak merasakan senang dan bangga karena dapat membawa karya hingga tahap tersebut. Dalam kesempatan tersebut, tim harus mampu menjelaskan berbagai tahapan penelitian, mulai dari analisis perubahan tutupan lahan, pemodelan CA-Markov, hingga proses validasi.

“Ketika pertama kali tampil di depan dewan juri, ada rasa gugup, bahkan sempat ngeblank dengan materi yang akan dibawakan. Tetapi setelah mulai menjelaskan karya yang memang kami kerjakan sendiri, rasa gugup tersebut perlahan berkurang,” ungkapnya.

Bagi Wildan, pengalaman paling berharga dari kompetisi tersebut bukan hanya mengenai hasil yang diperoleh. Lebih dari itu, ia mendapatkan kesempatan untuk membawa karya yang dikerjakan bersama tim keluar dari lingkungan kampus dan mempresentasikannya kepada orang lain.

Setelah berhasil membawa gagasannya dalam sebuah kompetisi, tim berharap penelitian mengenai prediksi perubahan tutupan lahan tersebut tidak berhenti sebagai karya lomba. Masih terdapat sejumlah aspek yang dapat dikembangkan untuk menghasilkan analisis yang lebih detail dan realistis.

“Pengembangan berikutnya dapat dilakukan dengan memasukkan lebih banyak faktor yang memengaruhi perubahan tutupan lahan, seperti kepadatan penduduk, jaringan jalan, pusat pertumbuhan ekonomi, kemiringan lereng, serta kebijakan tata ruang,” imbuhnya.

Tak lupa, Wildan berpesan kepada mahasiswa lainnya untuk tidak menunggu memiliki karya yang sempurna sebelum berani mengikuti kompetisi. Baginya, menjadi finalis dalam sebuah perlombaan bukan sekadar tentang hasil akhir, tetapi juga tentang proses yang dilalui.

(Sumber: humas unej).

Berita terkait

Pemkab Maybrat Dorong Penguatan Koordinasi Guna Pembentukan Badan Pengelola Danau Ayamaru

Pemkab Maybrat Dorong Penguatan Koordinasi Guna Pembentukan Badan Pengelola Danau Ayamaru

Sorong-Spektroom : Pemerintah Kabupaten Maybrat disarankan membentuk badan pengelola Danau Ayamaru untuk memperkuat koordinasi pemulihan ekosistem dan pengelolaan kawasan danau secara berkelanjutan. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Papua Barat Daya, Julian Kelly Kambu, ST., M.Si., mengatakan pembentukan badan tersebut diperlukan agar pengelolaan Danau Ayamaru dapat dilakukan secara terarah, mulai

Anthonius Teniwut, Julianto