Trending

Masjid Baiturrahman DPR RI, Oase Spiritual di Tengah Sibuknya Gedung Parlemen

Masjid Baiturrahman DPR RI, Oase Spiritual di Tengah Sibuknya Gedung Parlemen
Anggota Komisi XI DPR RI Kamrussamad (Foto: Parlementaria)

Jakarta - Spektroom : Di tengah kesibukan dan dinamika politik di kompleks parlemen Senayan, Jakarta, Masjid Baiturrahman DPR RI menghadirkan suasana yang menyejukkan. Rindangnya pepohonan, gemericik aliran air, dan ketenangan ruang ibadah menjadi oase bagi siapa saja yang ingin sejenak melepaskan diri dari rutinitas pekerjaan.

Pohon kurma, jati, dan matoa tumbuh terawat di kawasan masjid. Sebuah saluran air kecil mengalir tanpa henti, menghadirkan suara gemericik menyerupai sungai mini. Di tengah lingkungan hijau itu, bangunan masjid dengan arsitektur menyerupai bunga tanjung yang sedang mekar berdiri anggun.

Suasana terasa berbeda pada Selasa siang (20/10/2026). Sholat Zuhur berjamaah berlangsung lebih ramai dari biasanya. Sejumlah personel kepolisian dan TNI yang bertugas mengamankan unjuk rasa turut bergabung bersama jamaah lainnya.

Seusai sholat, sebagian besar jamaah tidak langsung meninggalkan masjid. Mereka memilih tetap duduk untuk mengikuti pengajian bada Zuhur yang menghadirkan Ustadz Fakhruddin Muchtar, M.A.

Bagi mereka yang sehari-hari disibukkan dengan rapat, pekerjaan administratif, hingga agenda politik, pengajian tersebut menjadi kesempatan untuk menenangkan pikiran sekaligus menyegarkan kembali keimanan.

“Kegiatan bada sholat Zuhur, mendengarkan penyegaran iman dengan bahasan menarik, seperti jeda positif di tengah kesibukan atau rutinitas kerja di gedung parlemen, Senayan. Ini bagus sekali,” kata anggota Komisi XI DPR RI Kamrussamad kepada Spektroom di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (20/10/2026).

Wakil rakyat dari daerah pemilihan Jawa Barat III itu tampak bersandar di dinding masjid sambil menyimak materi yang disampaikan penceramah dari bagian tengah ruangan.

Kali ini, Ustadz Fakhruddin mengangkat tema Mengungkap Rahasia Sholat Secara Sufistik. Bahasannya ringan, tetapi menyentuh persoalan mendasar dalam kehidupan sehari-hari: bagaimana manusia mengambil keputusan dan menentukan prioritas.

“Beda orang sukses dengan tidak adalah dari jumlah putusan yang benar lebih banyak daripada yang salah. Hidup ini sepanjang hari adalah tentang kejelian mengambil keputusan,” jelas Fakhruddin.

Ia kemudian memberikan contoh sederhana yang dekat dengan kehidupan jamaah. Ketika azan terdengar, seseorang dihadapkan pada pilihan: segera mengambil air wudhu atau membuka media sosial terlebih dahulu.

“Itu pilihan,” ujarnya.

Pesan tersebut seolah mengingatkan bahwa kualitas hidup tidak hanya ditentukan oleh keputusan besar, tetapi juga oleh pilihan-pilihan kecil yang dibuat setiap hari. Di tengah kesibukan, kemampuan menempatkan ibadah sebagai prioritas menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan hidup.

Jamaah pengajian pun datang dari beragam kalangan. Selain pegawai DPR, MPR, dan DPD, hadir pula mitra kerja dari kementerian serta lembaga yang sedang mengikuti rapat di kompleks parlemen. Sejumlah anggota dewan juga memanfaatkan waktu untuk sholat berjamaah dan beristirahat sejenak di masjid.

Topik Kajian Berangkat dari Kebutuhan Jamaah

Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Baiturrahman, Chairil Patria, menjelaskan bahwa pengurus berupaya menghadirkan kajian yang relevan dengan kebutuhan jamaah. Karena itu, materi ceramah tidak ditentukan semata-mata berdasarkan pilihan pengurus, melainkan juga mempertimbangkan aspirasi mereka yang mengikuti kegiatan.

“Kita menanyakan kepada para jamaah masjid, baik secara personal maupun berkelompok, kebutuhan materi yang ingin didengar atau didalami. Kemudian kami mencari penceramah yang paling tepat untuk materi tersebut,” kata Chairil, yang juga menjabat Kepala Pusat Analisis Keparlemenan Sekretariat Jenderal DPR RI.

Menurut dia, pemilihan tema menjadi salah satu faktor penting agar jamaah tertarik mengikuti kajian hingga selesai. Materi yang dekat dengan pengalaman sehari-hari diharapkan membuat pesan keagamaan lebih mudah dipahami dan diterapkan.

Upaya itu sekaligus menjadikan pengajian bada Zuhur bukan sekadar kegiatan rutin selepas ibadah, melainkan ruang refleksi di tengah padatnya aktivitas kerja.

Di Masjid Baiturrahman, waktu istirahat siang mendapatkan makna tambahan. Di antara rapat, dokumen, dan agenda pekerjaan, jamaah diajak kembali menata hati serta mengingat hal-hal yang kerap terabaikan dalam kesibukan.

Sesekali, gemericik air dari halaman masjid terdengar mengiringi suasana. Namun, bukan hanya kesejukan lingkungan yang ditawarkan tempat ini. Ada pula kesempatan untuk berhenti sejenak, mendengarkan nasihat, dan pulang dengan pikiran yang lebih jernih.

Di tengah hiruk-pikuk kompleks parlemen, Masjid Baiturrahman menjadi pengingat bahwa menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan spiritual sama pentingnya dengan menyelesaikan berbagai tanggung jawab sehari-hari.. (my)

Berita terkait

Demo BEM Untan di Kantor Gubernur Kalbar Ricuh, Mahasiswa Bawa 20 Tuntutan

Demo BEM Untan di Kantor Gubernur Kalbar Ricuh, Mahasiswa Bawa 20 Tuntutan

Pontianak - Spektroom : Demonstrasi ratusan mahasiswa Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Tanjungpura (Untan) di Kantor Gubernur Kalimantan Barat, Selasa (20/10/2026), berujung ricuh. Aksi bertajuk “REVOLUSI” itu diwarnai bentrokan fisik dengan petugas Satpol PP hingga pembakaran ban di depan kantor gubernur. Massa bergerak dengan berjalan kaki dari kawasan Tugu Digulis

Apolonius Welly, Buang Supeno