Pelajar Diminta Jadi Pembentuk Ruang Digital Aman, Bukan Sekadar Pengguna

Pelajar Diminta Jadi Pembentuk Ruang Digital Aman, Bukan Sekadar Pengguna
Staf Ahli Menteri Kemkomdigi Molly Prabawaty saat menerima kunjungan Forum Pelajar Indonesia, Kamis (6/8/2026). (Foto: Humas Kemkomdigi)

Jakarta-Spektroom : Generasi muda didorong tidak hanya menjadi pengguna internet, tetapi juga ikut membentuk ruang digital yang aman, sehat, dan bertanggung jawab.

Hal itu disampaikan Staf Ahli Menteri Bidang Komunikasi dan Media Massa Kemkomdigi, Molly Prabawaty, saat menerima kunjungan Forum Pelajar Indonesia di Kantor Kementerian Komdigi, Jakarta Pusat, Kamis (6/8/2026).

Molly mewakili Menkomdigi Meutya Hafid mengatakan tantangan terbesar pelajar saat ini bukan keterbatasan informasi, melainkan banjir informasi berupa hoaks, penipuan digital, dan manipulasi konten berbasis AI yang semakin sulit dikenali.

"Jangan hanya menjadi pengguna ruang digital, tetapi jadilah generasi yang ikut membentuknya menjadi lebih aman, sehat, dan bermartabat. Setiap aktivitas di ruang digital adalah pilihan. Pilih untuk memeriksa sebelum membagikan informasi. Pilih untuk membantu, bukan ikut melakukan perundungan," ujar Molly.

Menurutnya, ruang digital yang aman dimulai dari kebiasaan sederhana. Pelajar diminta menghormati privasi, tidak menyebarluaskan sesuatu yang bukan haknya, serta melakukan saring sebelum membagikan.

"Hormati privasi, jangan menyebarkan sesuatu yang bukan hak kita. Dari pilihan-pilihan sederhana itulah ruang digital yang aman dan sehat dibentuk. Jadi jangan langsung membagikan, tetapi saring terlebih dahulu sebelum dibagikan," tegasnya.

Molly juga menekankan pentingnya kepedulian. Pelajar yang melihat teman mengalami perundungan, penipuan, pemerasan, atau ancaman di ruang digital diminta tidak membiarkannya sendiri.

"Jika kalian melihat teman mengalami perundungan, penipuan, pemerasan, atau merasa terancam di ruang digital, jangan membiarkannya menghadapi masalah sendirian. Ajak bicara dengan guru, orang tua, atau orang dewasa yang dapat dipercaya," ujarnya.

Ia menitipkan tiga prinsip pemanfaatan teknologi: *kritis, peduli, dan produktif*. "Gunakan teknologi bukan hanya untuk scrolling, tetapi untuk belajar, berkarya, berinovasi, dan menciptakan manfaat," pungkas Molly.

Dalam kegiatan tersebut peserta mendapat edukasi mekanisme penanganan hoaks dan judi online, office tour, serta kunjungan ke pusat monitoring Kemkomdigi.

Siswa SMA Katolik Giovanni Kupang, Philips Soubirus Hendrikus Ola, mengaku banyak mendapat pemahaman baru. "Saya sangat bangga bisa datang ke sini. Pertanyaan yang selama ini ada di daerah saya akhirnya terjawab mengenai hoaks dan mengapa berbagai akun judi online belum terblokir. Ada proses dan mekanismenya," kata Philips.

Senada, siswa SMA Negeri 4 Lahat, Aurelia Nur Safira, menilai materi yang disampaikan interaktif dan memberi pengalaman baru melihat langsung sistem kerja pusat monitoring Kemkomdigi. (RRE/Diut)

Berita terkait