Pelestarian Tradisi Apen Bayeren Dalam Festival Budaya Biak Melanesia 2026
Biak-Spektroom : Dikala matahari mulai terbenam di tepi pantai Biak, panas membara dari susunan batu karang yang dibakar kurang lebih selama empat jam menyalakan perhatian akan sebuah harapan dari tradisi.
Masyarakat adat Suku Biak menghadirkan atraksi adat Apen Bayeren, tradisi berjalan dan menari di atas batu panas di hadapan para wisatawan, termasuk rombongan turis kapal yacht mancanegara.
Atraksi yang ditampilkan pada event Festival Budaya Biak Melanesia (17 s/d 21 Oktober 2026) diperagakan oleh kelompok adat dari Kampung Adoki, keluarga Yapen yang telah memelihara tradisi Apen Bayeren sejak tahun 1949.

Budayawan Biak Numfor, Salmon Rumakeuw, mengatakan bahwa atraksi ini bukan sekadar tontonan.
“Di dalamnya ada nilai, norma dan simbol leluhur.Atraksi ini diadakan karena antusiasme wisatawan sangat besar. Kami bangga bisa menampilkannya dengan sukacita, dan berharap Apen Bayeren menjadi ikon utama Festival Budaya Biak‑Melanesia,” tutur Salmon, Selasa, 20 Oktober 2026.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Biak Numfor, Turbey Onesimus Dangeubun, S.Pi., M.Si., menjelaskan penyajian khusus ini memiliki tiga tujuan utama.
“Pertama, membangun memori kolektif para tamu agar selalu mengingat Biak dengan kekayaan budayanya terutama Apen Bayeren. Kedua, mengingatkan bahwa kebudayaan adalah investasi masa depan, bukan hanya milik orang Biak tetapi juga kekayaan bersama dunia sehingga wisatawan dapat membawa cerita ke negara‑negara asal mereka. Ketiga, membangun merek wisata daerah serta menunjukkan bahwa warisan adat kita merupakan pengalaman istimewa bagi siapa pun yang berkunjung,” jelasnya.
Festival Budaya Biak‑Melanesia 2026, menjadi momen pertemuan antara wisatawan lokal, nusantara, dan mancanegara, sehingga pihak Hotel Nirmala Biak sebagai salah satu pendukung atraksi, menghadirkan rombongan turis kapal yacht.
Mewakili pihak Hotel Nurmala Biak, Ahmed Eltantawy menyampaikan bahwa dari rencana 17 kapal pesiar yacht, 12 kapal telah tiba, sementara lima kapal lainnya tertunda karena cuaca dan diperkirakan tiba beberapa hari kemudian.
“Biak kini menjadi pintu masuk dari kawasan timur. Fasilitas kita semakin membaik. Wisatawan pesiar ini telah melakukan bird watching, land tour, selam, lalu hadir di festival budaya, mereka menyebut Biak tempat yang luar biasa,"ungkap Ahmed.
Apen Bayeren bukan hanya pertunjukan adat semata. Ia adalah pesan dari tanah Biak, agar warisan leluhur tetap hidup, terbuka untuk dunia, dan menjadi ikon perjalanan pariwisata budaya daerah Biak Numfor kedepan.