Sampah Plastik Disulap Jadi Paving, DPRD dan Pemko Palangka Raya Dorong Solusi Ramah Lingkungan
Palangka Raya-Spektroom : Limbah plastik yang selama ini identik dengan pencemaran lingkungan kini mulai dilirik sebagai material pembangunan bernilai ekonomi. Inovasi pengolahan sampah menjadi paving block mendapat dukungan penuh dari Komisi III DPRD Kota Palangka Raya dan Pemerintah Kota Palangka Raya karena dinilai mampu menjawab persoalan sampah sekaligus membuka peluang ekonomi masyarakat.
Wakil Ketua I Komisi III DPRD Kota Palangka Raya, Dede Ardiansyah, menilai pengelolaan sampah berbasis daur ulang harus terus diperkuat agar sampah tidak hanya berakhir di tempat pembuangan akhir tanpa nilai manfaat.
Menurutnya, masih banyak jenis sampah yang sebenarnya dapat diolah menjadi produk produktif, mulai dari sumber energi alternatif, kerajinan tangan, hingga bahan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).
“Peluang itu sangat baik untuk dikembangkan karena selain membantu mengurangi volume sampah, juga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat,” ujarnya, Kamis (18/6/2026).
Dede menegaskan inovasi paving block berbahan limbah plastik menjadi langkah strategis karena mampu mengubah persoalan lingkungan menjadi solusi pembangunan yang memiliki nilai jual.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Palangka Raya, Achmad Zaini, optimistis pemanfaatan paving block berbahan limbah plastik dapat diterapkan lebih luas di berbagai kawasan kota.
Ia mengungkapkan, ribuan paving block hasil daur ulang sampah plastik telah dipasang di kawasan perkantoran Kecamatan Tangkiling sebagai bagian dari uji coba produk ramah lingkungan tersebut.
Menurut Zaini, hasil penggunaan di lapangan menunjukkan kualitas paving masih sangat baik dan memiliki daya tahan tinggi sehingga berpotensi menjadi alternatif material pembangunan berkelanjutan di masa depan.
“Kita berharap paving berbahan limbah plastik ini nantinya bisa dimanfaatkan lebih luas, termasuk untuk taman kota maupun lingkungan perkantoran,” katanya.
Pemanfaatan limbah plastik menjadi paving block dinilai bukan sekadar solusi teknis pengurangan sampah, tetapi juga menjadi simbol perubahan pola pikir masyarakat terhadap sampah yang selama ini dianggap tidak bernilai.
Melalui inovasi tersebut, Palangka Raya mulai menunjukkan arah pembangunan kota yang tidak hanya fokus pada infrastruktur, tetapi juga pada keberlanjutan lingkungan dan ekonomi hijau berbasis daur ulang. (Polin-Edi)