Suara Indonesia dari Ujung Perbatasan

Suara Indonesia dari Ujung Perbatasan
Gedung RRI SP Entikong di dusun Semeng desa Semangit kecamatan Entikong kabupaten Sanggau (2008) (Foto : Dok.Biantoro).

Oleh: Subiyantoro.

Purwokerto - Spektroom : Tidak pernah terbersit dalam benak saya akan mendapat tugas sebagai ASN di daerah perbatasan negara tetangga. Jauh dari hiruk-pikuk kota, kemacetan lalu lintas, keluarga, dan tentu saja berbagai fasilitas yang selama ini menjadi bagian dari keseharian.

Namun, tugas kadang membawa kita ke tempat yang tidak pernah kita bayangkan.

Bagi saya, perjalanan itu bermula pada 2008, ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pidato kenegaraan menjelang peringatan Proklamasi Kemerdekaan di Gedung DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta, menekankan pentingnya membangun sabuk pengamanan informasi di daerah perbatasan.

Pesan tersebut mendapat perhatian serius dari RRI. Direktur Utama RRI ketika itu, Parni Hadi, kemudian menggerakkan jajaran direksi untuk mewujudkannya. RRI mulai membangun Studio Produksi (SP) di wilayah perbatasan, salah satunya RRI SP Entikong, Kalimantan Barat.

Tugasnya sederhana tetapi sangat strategis: menghadirkan informasi, pendidikan, penerangan dan hiburan bagi masyarakat perbatasan. Sebanyak 60 persen materi siaran diarahkan pada kearifan lokal, sementara sisanya berupa informasi regional dan nasional.

Awalnya saya tidak pernah menyangka akan menjadi bagian dari tugas tersebut.

Sepulang dari tugas liputan haji di Tanah Suci, saya mengikuti Jambore Siaran Nasional di Gorontalo. Tanpa sengaja saya berpapasan dengan Parni Hadi Dirrut RRI saat itu. Ketika bertemu, beliau langsung berkata,

“Biantoro, kamu jangan jadi jago kandang. Keluar. Perbatasan menunggu kiprahmu.”

“Saya belum mampu, Pak,” jawab saya.

“Kamu mampu. Berangkat!”

Tidak lama setelah itu, SK penugasan ke Entikong saya terima dari Kepala RRI Purwokerto saat itu, Endang Pujihartati.

Bagai disambar petir di siang bolong. Secepat itu keputusan datang.

Saya pun berangkat.

Malam selepas salat Isya, perjalanan dari Pontianak menuju Entikong dimulai. Bersama sejumlah pejabat RRI, kami menempuh perjalanan sepanjang malam dan tiba menjelang subuh.

Hari pertama langsung diisi dengan seleksi dan persiapan operasional. Terpilih sembilan karyawan untuk mengisi posisi penyiar, reporter, teknisi, administrasi, petugas jaga malam dan tenaga kebersihan.

Tantangannya tidak ringan. Sebagian karyawan bahkan belum pernah menggunakan komputer. Jangankan komputer, mesin ketik pun belum pernah mereka pegang.

Selama dua bulan kami belajar bersama. Mulai mengenal komputer, menulis berita, memproduksi berita hingga membaca berita.

Kantor RRI SP Entikong ketika itu berada di Dusun Semeng, Desa Semangit, sekitar 14 kilometer dari pusat kecamatan. Di kanan-kirinya terbentang hutan karet.

Listrik hanya menyala sampai sekitar pukul 19.00. Untuk siaran, kami mengandalkan mesin diesel yang bahan bakarnya tidak selalu mudah diperoleh. Bahkan sebulan sekali siaran harus dihentikan untuk perawatan mesin.

Kami hanya memiliki dua sepeda motor untuk berbagai keperluan: liputan, membeli kebutuhan harian hingga mengurus surat-menyurat.

Tetapi keterbatasan itu justru memperlihatkan arti kehadiran RRI.

Setiap hari pendengar berdatangan. Belum ada kursi tamu. Mereka duduk di atas tikar yang pada malam hari kami gunakan sebagai alas tidur.

Tidak jarang pendengar datang membawa durian dari kebun mereka. Saat musim gawai tiba, undangan hajatan bisa datang dua atau tiga dalam sehari.

Bagi kami, pendengar bukan sekadar angka. Mereka adalah alasan mengapa radio itu harus tetap mengudara.

Sore hari, ketika pintu perbatasan menuju Malaysia ditutup, suasana Entikong berubah sepi. Saya dan beberapa karyawan sering duduk di bawah pohon petai di depan kantor. Kami bercanda, berbincang, sekaligus membayangkan kapan bisa kembali ke Jawa.

Rindu keluarga tentu ada.

Tetapi di balik kesunyian itu, kami menyadari satu hal: kami sedang menjaga suara Indonesia di beranda negeri.

Memasuki pertengahan bulan keempat, telepon dari Parni Hadi kembali berdering.

Beliau menanyakan perkembangan Entikong, lalu berkata, “Entikong bagus. Minggu depan saya bersama Panglima TNI, gubernur dan Muspida akan meresmikan RRI Stasiun Produksi Malinau. Saya minta kamu menjadi koordinator pertama di sana.”

Saya kembali terdiam.

Belum selesai satu pengabdian, tugas lain telah menunggu di perbatasan.

Dari pengalaman itu saya belajar, menjaga Indonesia tidak selalu harus dilakukan dengan sesuatu yang besar.

Kadang cukup dengan sebuah studio kecil, sebuah pemancar, beberapa orang yang mau belajar, dan suara yang terus menyapa masyarakat.

Sebab di ujung negeri sekalipun, Indonesia harus tetap terdengar.

Dan radio menjadi salah satu suara yang memastikan negara tidak pernah benar-benar jauh dari rakyatnya.

Berita terkait

Maluku Siaga Abu Vulkanik, Pemprov dan Polda Bergerak Antisipasi Gangguan Penerbangan hingga Kesehatan Warga

Maluku Siaga Abu Vulkanik, Pemprov dan Polda Bergerak Antisipasi Gangguan Penerbangan hingga Kesehatan Warga

Ambon - Spektroom: Pemerintah Provinsi Maluku bersama Polda Maluku menetapkan langkah antisipasi lebih dini menghadapi potensi sebaran abu vulkanik akibat erupsi sejumlah gunung api aktif di Indonesia. Ancaman terhadap kesehatan masyarakat, keselamatan penerbangan, hingga mobilitas warga menjadi fokus utama dalam penguatan koordinasi lintas sektor. Kesiapsiagaan itu diputuskan dalam Rapat Koordinasi

Eva Moenandar, Buang Supeno