TPID Provinsi Lampung Ikuti Rakor TPID Secara Virtual, Dari Ruang Command Center Dinas Kominfotik Provinsi Lampung
Bandarlampung - Spektroom: Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Lampung terus memantau perkembangan harga dan pasokan pangan sebagai bagian dari upaya menjaga inflasi tetap terkendali.
Langkah tersebut diperkuat melalui Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Tahun 2026 dan Evaluasi Dukungan Pemda dalam Program 3 Juta Rumah yang dipimpin Sekjen Kemendageri Tomsi Tohir di Sasana Bhakti Praja Kementerian Dalam Negri dan diikuti TPID seluruh Indonesia secara daring.

TPID Provinsi Lampung mengikuti rakor tersebut dari Ruang Command Center Dinas Kominfotik Provinsi Lampung, Senin (21/9/2026), dipimpin Staf Ahli Gubernur Bidang Pemerintahan Hukum dan Politik Yanyan Ruchyansah.
Dalam arahannya, Sekjen Kemendagri Tomsi Tohir mendorong pemda memperketat pemantauan harga serta ketersediaan bahan pokok. Tomsi menegaskan agar Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) menetapkan komoditas prioritas dan intervensi mingguan berbasis harga, stok, serta pasokan wilayah.
“Saya mengimbau pemerintah daerah untuk mengeksekusi intervensi secara cepat dan terukur sesuai kondisi pasokan serta harga di wilayah masing-masing, sekaligus memperkuat Kerja Sama Antardaerah dan fasilitasi distribusi dari wilayah surplus ke wilayah defisit,” ungkap Tomsi.
Selain inflasi, Rakor TPID juga mengevaluasi dukungan daerah terhadap Program 3 Juta Rumah. Program tersebut bertujuan memperluas akses masyarakat terhadap hunian layak dan terjangkau.
Pembangunan program rumah ini diproyeksikan memberi kontribusi sekitar 2% terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, sekaligus memperkuat pemerataan pembangunan dari desa sesuai mandat Asta Cita Presiden RI.
Sementara dalam paparannya BPS mencatat, Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama inflasi nasional pada Agustus 2026. Dari inflasi sebesar 0,21 persen, kelompok tersebut memberikan andil sebesar 0,17 persen.
Deputi Bidang Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Ateng Hartono, mengatakan inflasi kelompok makanan, minuman, dan tembakau pada Agustus mencapai 0,57 persen. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pergerakan harga pangan masih menjadi faktor dominan terhadap inflasi.
“Yang menarik dari inflasi 0,21 persen andil, inflasi dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau itu 0,17 persen. Jadi hampir total andilnya itu dari kelompok makanan, minuman,” ujar Ateng dalam dalam paparannya.
Ateng menjelaskan, salah satu komoditas yang memberikan tekanan terbesar adalah daging ayam ras. Komoditas tersebut mengalami inflasi sebesar 11,37 persen dengan andil mencapai 0,17 persen.
Selain daging ayam ras, sejumlah komoditas pangan lain juga mengalami kenaikan harga, di antaranya cabai rawit, ikan segar, dan beras. Cabai rawit mengalami inflasi sebesar 6,47 persen dengan andil 0,02 persen, sedangkan beras mengalami inflasi 0,42 persen dengan andil 0,02 persen.
"Besarnya andil beras tidak semata-mata ditentukan oleh tingkat inflasinya, tetapi juga dipengaruhi bobot atau penimbang komoditas tersebut dalam penghitungan inflasi. Karena itu, kenaikan harga beras tetap perlu mendapat perhatian meskipun persentase inflasinya relatif lebih rendah dibandingkan cabai rawit," ucap Ateng.
Ateng juga meminta pemerintah daerah mencermati perkembangan harga daging sapi dan minyak goreng. Daging sapi mengalami inflasi 0,77 persen pada Agustus, sementara minyak goreng tercatat mengalami deflasi, tetapi perkembangan harga pada September tetap perlu dipantau dari sisi pasokan dan permintaan.(@Ng).