Vakum 9 Tahun, Balai Bahasa Sumbar Hidupkan Lagi Bulan Bahasa dan Sastra
Padang-Spektroom : Setelah vakum sembilan tahun, Semarak Bulan Bahasa dan Sastra Sumatera Barat kembali digelar Balai Bahasa Sumbar. Kegiatan dipusatkan di pelataran kantor Balai Bahasa Sumbar di Kecamatan Pauh, Kota Padang, Senin (26/10/2026). Kepala Balai Bahasa Sumbar Rahmat mengatakan, kegiatan ini digelar untuk menggairahkan pelestarian bahasa daerah dan menguatkan penggunaan Bahasa Indonesia di tengah masyarakat. Tahun ini ada empat lomba yang dipertandingkan. Dua di antaranya menggunakan Bahasa Minangkabau, yakni Mendongeng Berbahasa Minangkabau untuk guru PAUD/TK dan perwakilan Taman Bacaan Masyarakat (TBM), serta Komedi Tunggal (stand up comedy) Berbahasa Minangkabau untuk mahasiswa dan umum. "Ada dua lomba menggunakan Bahasa Minangkabau. Lomba ini merupakan upaya untuk mendorong pelestarian bahasa daerah," ujar Rahmat. Ia mengaku miris saat ada peserta yang mengaku canggung mendongeng dengan Bahasa Minangkabau. Menurutnya, hal itu menjadi alarm agar penuturan bahasa daerah kembali dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari. "Artinya ini alarm bagi kita agar kembali membiasakan penuturan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari agar keberadaannya tidak terdegradasi," katanya. Dua lomba lain menyasar siswa SMA sederajat, yakni Sinopsis Karya Sastra dan Konten Kreatif Bahasa dan Sastra. Tujuannya meningkatkan literasi di kalangan generasi muda. Pada lomba sinopsis, siswa diajak berpikir kritis menganalisis karya sastra penulis besar asal Sumbar untuk melanjutkan tradisi lahirnya penulis hebat dari Ranah Minang. Sementara lomba konten menjadi wadah bagi siswa kreatif menghasilkan konten untuk disebarluaskan di media sosial. Kepala UPTD Balai Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan Sumbar, Nina Nadjmir, menilai perlombaan ini menjadi pendorong agar masyarakat bangga menuturkan bahasa daerah. "Lomba ini harus berkelanjutan. Kami dari Dinas Pendidikan Sumbar sangat mendukung agar jumlah peserta lomba ini ditambah terus, khususnya peserta tingkat SMA," ucap Nina. Salah satu peserta, Dwi Lestari, pegiat literasi TBM dari Pesisir Selatan mengaku tertantang ikut mendongeng berbahasa Minangkabau. Perempuan keturunan Jawa yang lahir di Jakarta dan telah 21 tahun menetap di Sumbar itu mengaku harus belajar lebih giat. "Kalau bahasa Minang sudah bisa, tapi untuk mendongeng cerita rakyat Minangkabau masih perlu belajar lebih giat," tuturnya.