Wamen Lingkungan Hidup Tinjau TPA Cipayung Depok
Depok - Spektroom: Tumpukan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipayung, Kota Depok, Jawa Barat, kembali menjadi perhatian pemerintah. Di tengah meningkatnya risiko kebakaran di sejumlah TPA akibat kondisi cuaca dan timbunan sampah yang mudah terbakar, pemerintah pusat mendorong Depok mempercepat pembenahan pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir.
Hal itu mengemuka saat Wakil Menteri Lingkungan Hidup (Wamen LH) Malik Hendropriyono (Diaz Hendropriyono) mengunjungi TPA Cipayung, Selasa (11/8/2026).
Diaz didampingi Agus Rusly, S.Pi., M.Si., Direktur Pengurangan Sampah dan Pengembangan Ekonomi Sirkular Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup.
Rombongan diterima Wakil Wali Kota Depok, Chandra Rahmansyah bersama sejumlah unsur organisasi perangkat daerah (OPD), termasuk Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Depok, Reni Siti Nuraeni.
Reni memaparkan kondisi terkini TPA Cipayung kepada rombongan Kementerian Lingkungan Hidup, termasuk besarnya volume sampah yang selama ini harus ditangani Pemerintah Kota Depok. Volume sampah yang tertampung di TPA Cipayung disebut telah mencapai sekitar 2,9 juta ton.
Kondisi tersebut menjadi gambaran betapa pengelolaan sampah tidak lagi dapat hanya mengandalkan tempat pembuangan akhir. Pemerintah daerah dituntut memperkuat pengurangan dan pemilahan sampah sejak dari sumbernya.
Pemerintah telah memiliki target besar dalam pengelolaan sampah. Pada 2029, seluruh sampah ditargetkan dapat dikelola dengan baik.
Salah 1 langkah yang ditekankan adalah memperkuat sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat mengenai pemilahan serta pengolahan sampah. Sosialisasi dinilai tidak cukup hanya dalam bentuk kampanye umum. Pemerintah daerah diminta membuat pola edukasi yang menyesuaikan karakteristik setiap wilayah.
“Setiap kelurahan bisa memiliki solusi sendiri dalam memilah sampah. Karena itu, sosialisasi harus memiliki ciri khas lokal,” demikian inti arahan Diaz dalam kunjungan tersebut.
Edukasi juga didorong memanfaatkan media digital, iklan layanan masyarakat, hingga panduan praktis yang menjelaskan apa yang harus dilakukan masyarakat setiap hari. Mulai dari ibu rumah tangga, bapak-bapak, hingga anak-anak perlu memiliki pemahaman yang sama mengenai cara memilah dan mengolah sampah.
Pemerintah diminta mengukur hasil dari setiap program sosialisasi tersebut. Bukan sekadar membuat kegiatan atau laporan, tetapi harus terlihat apakah volume sampah di suatu wilayah benar-benar berkurang dan apakah pemilahan sampah telah berjalan secara konsisten.
Pemerintah Kota Depok agar dalam waktu sekitar 1 bulan sudah terlihat sejumlah wilayah yang berhasil menjalankan pemilahan sampah dengan baik. Evaluasi itu nantinya dapat menjadi dasar untuk melihat kelurahan mana yang mampu menjadi contoh bagi wilayah lainnya.
Dorongan memperkuat pemilahan sampah menjadi semakin penting karena Depok tengah menyiapkan sejumlah skema pengelolaan sampah dalam jumlah besar. Depok menyumbang sekitar 700 ton sampah ke fasilitas pengolahan sampah, sekaligus memiliki rencana pembangunan fasilitas pengolahan dengan kapasitas sekitar 1.000 ton.
Kapasitas teknologi pengolahan sampah tidak optimal apabila sampah yang masuk masih tercampur. Karena itu, pemilahan dari sumber menjadi salah 1 kunci keberhasilan,Dari tengah sampai hilir harus berjalan. Hasil dari apa yang dilakukan harus bisa dilihat,
Aspek keselamatan menjadi perhatian serius, khususnya bagi para pemulung yang beraktivitas di sekitar TPA. Keselamatan para pekerja informal tersebut dinilai tidak boleh diabaikan. Pemerintah pusat juga minta kepastian aktivitas pemulungan tidak menimbulkan risiko yang dapat menyebabkan kecelakaan maupun korban jiwa.
Selain persoalan volume sampah, kunjungan Wamen LH juga menyoroti ancaman kebakaran di sejumlah TPA. Sejak awal tahun hingga saat ini, disebut terdapat sekitar 20 TPA yang mengalami kebakaran di berbagai daerah. Penyebab kebakaran masih bervariasi dan perlu ditelusuri lebih lanjut. Tidak seluruh kejadian dapat serta-merta dikaitkan dengan fenomena alam atau kondisi cuaca.
TPA Cipayung yang telah menampung sekitar 2,9 juta ton sampah menjadi pengingat kapasitas tempat pembuangan akhir memiliki batas.
Sampah terus diproduksi setiap hari, keberhasilan Depok menuju target bebas sampah pada 2029, sangat bergantung pada konsistensi pemerintah, keterlibatan masyarakat, efektivitas pemilahan, teknologi pengolahan, serta keberanian memastikan seluruh program berjalan di lapangan.(wis).