Dari Hutan Sagu hingga Wisata Dunia, Rutong Siapkan Pasar Akhir Pekan
Ambon -Spektroom: Kekayaan alam dan warisan leluhur mulai membawa Negeri Rutong, Kecamatan Leitimur Selatan, Kota Ambon, ke panggung pariwisata internasional. Ekowisata Hutan Sagu yang menjadi kebanggaan masyarakat setempat kini telah dikunjungi lebih dari 10.000 wisatawan sejak 2023.
Raja Negeri Rutong, Reza Valdo Maispatella, mengatakan, jumlah tersebut merupakan wisatawan yang tercatat membayar biaya kunjungan. Angka itu belum termasuk rombongan pelajar dan wisatawan untuk kepentingan pendidikan yang mendapat pembebasan biaya.
Daya tarik Hutan Sagu Rutong bahkan telah menjangkau berbagai negara. Wisatawan dari Amerika Serikat, Belanda, negara-negara Eropa hingga Rusia pernah mengunjungi kawasan tersebut. Rutong juga pernah menerima kedatangan 70 kapal layar (yacht) dari tujuh negara.
Bagi masyarakat Rutong, hutan sagu bukan hanya objek wisata. Kawasan ini menyimpan cerita panjang tentang kehidupan leluhur Maluku, ketika sagu menjadi salah satu sumber pangan utama dan bagian penting dari identitas budaya masyarakat.
Potensi tersebut kini ingin dikembangkan lebih jauh. Pemerintah Negeri Rutong merencanakan pembukaan Rutong Saturday Market pada Desember 2026. Kehadiran pasar akhir pekan ini diharapkan menjadi daya tarik baru bagi wisatawan dari Pulau Ambon maupun luar daerah, sekaligus membuka ruang bagi masyarakat untuk memasarkan produk lokal.
Dukungan terhadap pengembangan pariwisata Rutong juga datang dari Kapolresta Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease, Kombes Pol Andrias Susanto Nugroho.
Usai kegiatan Minggu Kasih dan Safari Kamtibmas bersama Jemaat GPM Rutong di Gedung Gereja Zebaoth, Minggu (8/11/2026), Andrias menyatakan kepolisian siap mendukung terciptanya situasi keamanan yang kondusif di kawasan tersebut.
Menurutnya, keamanan menjadi faktor penting agar wisatawan merasa nyaman saat berkunjung.
Rutong kini memiliki peluang lebih besar untuk berkembang. Tantangannya adalah menjaga kelestarian hutan sagu, meningkatkan fasilitas, serta memastikan masyarakat setempat ikut merasakan manfaat ekonomi dari pertumbuhan pariwisata.
Infrastruktur untukendukung kemajuan wisata di daerah itu, di antaranya atraksi wisata, homestay, toilet umum, digitalisasi dan kreatif serta, cleanness health, safety, environment (CHSE) dan kelembagaan.
Sementara pengembangan ekowisata Hutan Sagu sendiri sudah masuk dalam prioritas negeri Rutong agar mendapatkan penghasilan bagi masyarakat dan negeri Rutong .
Pemerintah Negeri sendiri membentuk Lembaga Pengelola Hutan Sagu untuk dapat mengatur dan mengontrol perkembangan ekowisata hutan sagu , kemudian pengelola juga sudah mengarahkan masyarakat agar dapat mengolah hasil sagu dalam berbagai olahan.
Dampak ekonomi setelah adanya ekowisata ini adalah pendapatan masyarakat meningkat secara signifikan karena mereka membuat paket pariwisata yaitu selain mengunjungi hutan sagu mereka pun dapat membeli hasil olahan sagu yang disediakan di Rutong. (EM)