Di Balik Penghargaan Menag RI, Ada Kerja Humas 24 Jam yang Menghubungkan Kemenag dengan Masyarakat
Palangka Raya-Spektroom : Penghargaan di tingkat nasional tidak selalu menjadi pencapaian satu orang. Di baliknya, ada kerja bersama yang berlangsung hingga ke daerah, termasuk para petugas humas yang memastikan informasi pelayanan keagamaan dan pendidikan sampai kepada masyarakat secara cepat, akurat, dan mudah dipahami.
Semangat itulah yang disoroti Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Palangka Raya, Muhidin Arifin, saat memberikan apresiasi kepada Tim Humas dan Komunikasi Publik (HKP) Kemenag Kota Palangka Raya, Rabu (14/10/2026), menyusul keberhasilan Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, meraih Top Government Public Relation (GPR) Figure Award 2026.
Muhidin menyampaikan penghargaan tersebut bukan semata-mata pengakuan terhadap pimpinan di tingkat pusat, melainkan juga menjadi motivasi bagi seluruh jajaran Kementerian Agama, termasuk humas di daerah, untuk terus meningkatkan kualitas komunikasi publik.

“Saya mengucapkan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada Tim Humas Kemenag Kota Palangka Raya di bawah komando Eka Arfantari yang selama ini telah bekerja luar biasa, bekerja 24 jam, mengawal informasi pelayanan keagamaan dan pendidikan kepada masyarakat. Penghargaan Menag ini adalah penghargaan untuk kita semua, dari pusat hingga daerah,” ujar Muhidin.
Penghargaan untuk Transformasi Pelayanan Publik
Menag meraih Top GPR Figure Award 2026 pada subkategori Special Achievement for TOP Public Service Digital Transformation Figure 2026. Penghargaan ini berkaitan dengan kepemimpinan dan upaya transformasi digital serta komunikasi publik dalam mendukung pelayanan yang lebih efektif dan mudah diakses.
Dalam keterangannya, Nasaruddin menegaskan bahwa penghargaan tersebut merupakan hasil kerja kolektif seluruh jajaran Kementerian Agama, mulai dari pusat hingga daerah.
“Penghargaan ini bukan untuk saya sendiri, tetapi segenap karyawan, staf, pimpinan yang lain di Kementerian Agama, dari pusat sampai ke tingkat daerah. Karena penilaian ini adalah penilaian kolektif,” ungkap Menag.
Ia juga secara khusus mengapresiasi peran humas yang menjadi penghubung antara institusi dan masyarakat.
“Saya juga lebih khusus mengucapkan terima kasih kepada Humas kami, andalan kami. Kerja mereka 24 jam karena harus memfasilitasi komunikasi Kementerian Agama,” ujarnya.
Bukan Sekadar Hadir di Ruang Digital
Dalam penjelasan penyelenggara, GPR Institute, penilaian Top GPR Figure Award 2026 menggunakan pendekatan berbasis jejak digital. Aspek yang dinilai mencakup kesadaran publik terhadap figur melalui pencarian dan ulasan digital, jumlah serta sentimen pemberitaan, hingga aktivitas dan keterlibatan di media sosial seperti Facebook, Instagram, YouTube, dan TikTok.
Penilaian juga mensyaratkan sedikitnya 90 persen pemberitaan memiliki sentimen netral dan positif. Sementara itu, kategori Special Achievement mempertimbangkan kebaruan inovasi, kepemimpinan, manfaat bagi publik, serta potensi replikasi, pelembagaan, dan keberlanjutan.
Bagi Kementerian Agama, transformasi digital tidak berhenti pada penggunaan teknologi untuk menyampaikan informasi. Upaya tersebut juga diarahkan untuk membangun komunikasi yang lebih terbuka dan partisipatif, sehingga masyarakat tidak hanya menerima informasi, tetapi juga memiliki ruang untuk menyampaikan aspirasi.
Pada akhirnya, nilai sebuah penghargaan tidak hanya terletak pada pengakuan yang diterima seorang pejabat. Ukurannya juga ada pada perubahan yang dirasakan masyarakat: informasi pelayanan yang semakin mudah ditemukan, penjelasan yang semakin jelas, dan respons institusi yang semakin dekat dengan kebutuhan publik. (Polin-Eka)