Dilepas Sawahlunto, Dipungut Solok: Dua Srikandi Pelajar Sumbang 3 Medali Panahan Berkuda di Porprov XVI Sumbar
Sawahlunto–Spektroom : Kisah ironi sekaligus inspirasi datang dari cabang olahraga Pordasi Berkuda Memanah (PBHM) pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XVI Sumatera Barat 2026. Dua pelajar putri asal Kota Sawahlunto, Tsaniatul Puti Atsauri dan Denting Atsauri, justru mempersembahkan medali untuk Kota Solok setelah tak mendapat panggilan dari daerah asalnya.
Kontingen Kota Solok mencatat tambahan signifikan di cabor yang dipertandingkan di Pantai Pasir Jambak, Kota Padang, pada 8–11 Oktober 2026 tersebut. Porprov XVI sendiri digelar pada 2–14 Oktober 2026 setelah vakum delapan tahun.
Tsaniatul Puti Atsauri, siswi kelas XII MAN Sawahlunto, dan Denting Atsauri, siswi kelas IX MTsN 2 Sawahlunto, tampil membela Kota Solok dan mengoleksi total 1 perak dan 2 perunggu. Tsaniatul meraih 1 perak dan 1 perunggu, sementara Denting menambah 1 perunggu. Kontribusi itu membuat total medali PBHM Kota Solok mencapai 13 keping hingga hari ke-9 penyelenggaraan.
Keduanya merupakan atlet binaan Amachery Sawahlunto Club yang bernaung di bawah Federasi Seni Panahan Tradisional Indonesia (FESPATI) Sawahlunto.
Di balik prestasi itu, tersimpan kekecewaan. Eraflah, orang tua sekaligus pelatih kedua atlet, mengungkapkan bahwa keduanya sejatinya menunggu panggilan dari Sawahlunto.
Menurut Eraflah, cabor panahan tidak pernah memanggil atlet panahan putri hingga batas akhir pendaftaran Porprov.
"Cabor panahan tidak pernah memanggil atlet panahan putri, kami sudah menunggu-nunggu juga, sampai batas akhir pendaftaran atlet panahan Porprov, cabor dan KONI Sawahlunto tidak ada memanggil. Akhirnya kami putuskan untuk menerima panggilan KONI Solok, karena sebelumnya anak-anak ini sudah sering berlatih bersama atlet-atlet panahan Solok," ujar Eraflah kepada media, Selasa (12/10/26)
"Bukan kami tidak cinta Sawahlunto, tapi Sawahlunto yang meninggalkan kami, tidak melihat bahwasanya kami ada. Akhirnya Sawahlunto tidak mengikuti cabor panahan berkuda putri," tambahnya.
Keputusan itu berbuah manis bagi Kota Solok. Pada hari ke-9 Porprov, Kota Solok tercatat menambah medali dari Pordasi Berkuda Memanah, di antaranya dua perak, yang salah satunya disumbangkan oleh Tsaniatul.
Cabang berkuda memanah sendiri menjadi salah satu cabor yang paling disorot pada Porprov XVI. Selain Kota Padang yang keluar sebagai juara umum cabor ini, sejumlah daerah seperti Pasaman Barat juga menargetkan medali dari Pordasi Berkuda Memanah, sayangnya Sawahlunto tidak mengikutinya.
Bagi Tsaniatul dan Denting, capaian ini bukan sekadar medali. Di usia pelajar, mereka harus memadukan keterampilan berkuda, konsentrasi memanah tradisional, dan ketahanan fisik di arena pasir pantai.
Kisah keduanya menjadi cermin penting bagi pembinaan olahraga daerah. Di saat banyak daerah berlomba melepas atlet andalan menuju Porprov, talenta potensial justru bisa hilang karena lemahnya pendataan dan komunikasi antara cabor dan KONI di daerah.
Prestasi dua srikandi Sawahlunto untuk Solok ini diharapkan menjadi evaluasi bagi sistem rekrutmen atlet untuk Porprov di Sumatera Barat, sekaligus inspirasi bahwa pembinaan klub lokal seperti Amachery dan FESPATI mampu melahirkan atlet berdaya saing provinsi meski tanpa dukungan penuh dari daerah asal. (Ris1)