Dorong Pariwisata Berbasis Komunitas, Desa Wisata Sleman Raih Dua Penghargaan DIY 2026
Bantul–Spektroom : Pengembangan pariwisata berbasis komunitas terus didorong Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Salah satunya melalui Lomba Desa/Kampung Wisata Tingkat DIY 2026 yang tidak hanya menilai daya tarik destinasi, tetapi juga tata kelola, dampak ekonomi, sosial budaya, serta keberlanjutan lingkungan.
Dalam ajang tersebut, Kabupaten Sleman meraih dua penghargaan. Desa Wisata Garongan, Kalurahan Donokerto, Kapanewon Turi, meraih Juara 3 dengan skor 5.260.
Sementara Desa Wisata Pulesari, Kapanewon Turi, memperoleh penghargaan Kategori Khusus Dampak Ekonomi Terbesar dengan skor 5.100.
Penghargaan tersebut diserahkan dalam acara penganugerahan Lomba Desa/Kampung Wisata Tingkat DIY 2026 di Hotel Grand Rohan, Banguntapan, Bantul, Selasa (22/9/2026). Bupati Sleman Harda Kiswaya turut hadir dalam kegiatan tersebut.
Harda menyampaikan apresiasi kepada pengelola dan masyarakat Desa Wisata Garongan serta Pulesari. Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan kerja keras masyarakat dalam mengembangkan potensi wisata sekaligus menggerakkan perekonomian di tingkat lokal.
“Penghargaan ini menjadi kebanggaan sekaligus pemicu semangat bagi seluruh pengelola desa wisata di Kabupaten Sleman,” ujar Harda.
Kepala Dinas Pariwisata DIY Eling Priswanto mengatakan, lomba tersebut menjadi instrumen evaluasi untuk mengukur kesiapan desa wisata dalam mengelola destinasi secara berkelanjutan.
Aspek yang dinilai mencakup tata kelola, pelestarian sosial budaya, dampak ekonomi, hingga keberlanjutan lingkungan.
Menurutnya, desa wisata kini tidak lagi dipandang sekadar sebagai kumpulan usaha masyarakat, tetapi sebagai ekosistem pariwisata yang melibatkan berbagai unsur.
“Melalui kompetisi yang sehat ini, perwakilan terbaik dipersiapkan naik kelas menuju sertifikasi internasional berstandar Community-Based Tourism (CBT) ASEAN,” katanya.
Proses penilaian berlangsung sejak Mei hingga Agustus 2026. Tim juri pentahelix melakukan kunjungan lapangan secara independen tanpa pemberitahuan jadwal kepada peserta. Total hadiah pembinaan yang disiapkan mencapai Rp190 juta.
Ketua Dewan Juri Lomba Desa/Kampung Wisata DIY 2026, GKR Bendara, menegaskan lomba tersebut bukan sekadar ajang mencari pemenang. Kegiatan ini juga menjadi sarana pembelajaran dan evaluasi untuk meningkatkan kualitas pengelolaan destinasi.
“Yang dinilai bukan hanya keindahan lanskap atau banyaknya wisatawan, tetapi kemampuan komunitas dalam mengelola potensi lokal, membangun kelembagaan yang sehat, serta memastikan manfaat pariwisata kembali kepada masyarakat,” tuturnya.
Sementara itu, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menekankan bahwa masyarakat harus menjadi pelaku utama dalam pengembangan pariwisata berbasis komunitas, termasuk dalam merencanakan, mengelola, dan mengambil keputusan.
“Pariwisata yang baik adalah pariwisata yang mampu memperkuat ekonomi lokal, menjaga kohesi sosial, merawat kebudayaan, serta melindungi lingkungan sebagai ruang hidup bersama,” tegasnya.