Gebyar Batik Sleman Ajak Warga Merawat Warisan lewat Belanja Produk Lokal
Sleman-Spektroom: Bagi sebagian orang, batik mungkin hanya dipandang sebagai kain bermotif yang dikenakan pada acara tertentu. Namun bagi perajin di Sleman, setiap lembar batik menyimpan cerita, ketekunan, sekaligus harapan agar warisan budaya tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Cerita itulah yang coba dihadirkan melalui Gebyar Batik Sleman 2026 yang digelar Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Sleman bersama Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sleman.
Kegiatan yang berlangsung di Graha Kriya Dekranasda Sleman mulai 5 Oktober 2026 tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Batik Nasional dan Hari Batik Sedunia.
Ketua Umum Dekranasda Kabupaten Sleman, Mila Harda Kiswaya, mengatakan batik bukan sekadar kain dengan beragam motif. Di dalamnya terdapat warisan pengetahuan dan budaya yang diturunkan dari generasi ke generasi.
Karena itu, menurut Mila, keberadaan batik perlu dijaga tidak hanya dengan mengenakannya, tetapi juga dengan memberi ruang bagi perajin untuk terus berkarya dan mendapatkan pasar.
“Batik bukan sekadar kain bermotif, tetapi karya wastra yang sarat makna, harapan, doa, dan kearifan lokal,” kata Mila.
Semangat tersebut diterjemahkan melalui tiga agenda utama, yakni Bazar Batik pada 6-9 Oktober, program Banjir Diskon pada 2-31 Oktober, serta Sleman Halal Fashion & Craft pada 9-11 Oktober 2026.
Sebanyak 20 IKM batik akan mengisi Bazar Batik di lobi utama Graha Kriya Dekranasda Sleman. Pengunjung tidak hanya dapat melihat beragam karya, tetapi juga berbelanja langsung dari pelaku usaha.
Program Banjir Diskon bahkan menawarkan potongan harga hingga 50 persen untuk sejumlah produk IKM Sleman. Produk yang ditawarkan tidak terbatas pada batik, tetapi juga berbagai kerajinan lokal lainnya.
Kepala Disperindag Sleman Dwi Wulandari mengatakan rangkaian tersebut sekaligus menjadi bagian dari Sleman Creative Week 2026.
Sementara agenda Sleman Halal Fashion & Craft di Jogja City Mall diarahkan untuk mempertemukan karya fashion dan craft Sleman dengan masyarakat sekaligus meningkatkan pemahaman pelaku IKM mengenai kesiapan sertifikasi halal.
Bagi perajin, ruang seperti ini bukan sekadar tempat memajang produk. Setiap transaksi menjadi bentuk dukungan agar keterampilan membatik dan usaha kecil yang dibangun dari rumah atau bengkel kerja sederhana dapat terus bertahan.
Mila berharap masyarakat mengambil peran lebih jauh dengan datang, memilih, dan membeli produk IKM Sleman.
Sebab, merawat batik pada akhirnya bukan hanya soal menjaga motif dan teknik membatik, tetapi juga memastikan orang-orang yang membuatnya tetap memiliki alasan untuk terus berkarya.