Kanal Pinglu Berpotensi Perkuat Perdagangan Tiongkok–Indonesia
Jakarta-Spektroom : Kanal Pinglu sepanjang 134,2 kilometer di Guangxi, Tiongkok, dinilai berpotensi memperkuat konektivitas perdagangan Tiongkok–Indonesia melalui efisiensi transportasi dan penurunan biaya logistik.
Bagi Indonesia sebagai negara kepulauan, konektivitas laut yang efisien membuka peluang memperluas akses pasar dan meningkatkan daya saing produk nasional.
Oleh Su Yaxuan, reporter Global Times, diterjemahkan oleh Muhammad Abdurrohim.
Potensi tersebut menarik perhatian Alvin Candra Andrianto, mahasiswa Indonesia yang tengah menempuh pendidikan di Tiongkok. Saat mengunjungi area pameran Kanal Pinglu pada Pameran Tiongkok-ASEAN ke-23 di Nanning, Guangxi, akhir September lalu, Alvin menilai proyek tersebut relevan dengan kebutuhan Indonesia.
“Sebagai negara dengan ribuan pulau, Indonesia sangat bergantung pada transportasi laut untuk mendistribusikan barang, menjaga pasokan, dan menghubungkan pusat-pusat kegiatan ekonomi,” ujarnya, Senin (19/10/2026).
Menurut Alvin, Kanal Pinglu menunjukkan bagaimana pembangunan infrastruktur dapat mengatasi hambatan geografis dan meningkatkan efisiensi perdagangan.
Manfaat konektivitas ini juga diharapkan membuka peluang bagi produk Indonesia, termasuk yang dihasilkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), untuk menjangkau pasar Tiongkok.
Humprey Arnaldo Russel, Ketua Klaster Riset ASEAN–Tiongkok di Departemen Kajian Global, Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan Universitas Indonesia, turut membahas proyek tersebut bersama mahasiswa Indonesia. Diskusi menyoroti pentingnya jaringan transportasi yang mendukung distribusi barang secara efisien, baik di dalam negeri maupun lintas negara.
Kanal Pinglu dirancang menghubungkan Sungai Xijiang dengan Teluk Beibu. Tanpa kanal ini, pengiriman barang dari wilayah barat daya Tiongkok menuju laut harus menempuh jalur melalui Sungai Xijiang ke arah timur dan memutar melewati Delta Sungai Mutiara, dengan tambahan perjalanan sekitar 560 kilometer.
Berdasarkan data resmi Tiongkok, kanal tersebut diperkirakan mampu menurunkan biaya logistik sebesar 18–30 persen, dengan potensi penghematan lebih dari 5 miliar yuan atau sekitar 740 juta dolar AS per tahun.
Efisiensi ini berpotensi mendukung perdagangan komoditas dan produk olahan, termasuk durian beku Indonesia yang membutuhkan pengiriman terjaga dari sisi suhu dan waktu.
Selain itu, kerja sama industri terlihat pada Guangxi Jingui Pulp & Paper, perusahaan di Qinzhou yang memperoleh investasi dari Asia Pulp & Paper Group asal Indonesia. Perusahaan tersebut mengimpor serpihan kayu dan pulp dari Indonesia, sementara produk kertasnya dipasarkan ke sejumlah negara, termasuk Indonesia.
Meski demikian, manfaat konektivitas perlu didukung kesiapan eksportir, pemenuhan standar mutu, serta akses logistik yang terjangkau. UMKM juga membutuhkan informasi pasar dan kemudahan ekspor agar dapat memanfaatkan peluang tersebut.
Dengan demikian, Kanal Pinglu berpotensi memperkuat perdagangan Tiongkok–Indonesia apabila efisiensi transportasi mampu memperluas akses pasar, menekan biaya perdagangan, dan meningkatkan daya saing pelaku usaha nasional.