Konsumsi Rokok Gerus Pemenuhan Gizi Keluarga, Disekolah Dapat MBG, Tapi Dirumah Telur dan Susu Jadi Asap Beracun
Jakarta - Spektroom: Konsumsi rokok kretek filter secara konsisten menempati posisi kedua sebagai komoditas penyumbang pengeluaran terbesar sekaligus pembentuk garis kemiskinan di Indonesia, tepat berada di bawah beras.
Rata-rata pengeluaran per kapita bulanan masyarakat untuk rokok mencapai sekitar Rp94.000, melampaui gabungan pengeluaran untuk seluruh sumber protein hewani utama, seperti daging, telur, dan susu, yang hanya sebesar Rp85.267 per bulan.
Hal itu disampaikan Ketua Umum Indonesian Youth Council for Tactical Changes (IYCTC), Manik Marganamahendra, dalam Forum Catatan Koalisi Masyarakat Sipil memperingati Hari Pangan Sedunia (16 Oktober) dan Hari Pengentasan Kemiskinan Internasional (17 Oktober), di Jakarta Jum'at 16 Oktober 2026.
Diperkotaan, terus Manik, rokok menyumbang 10,83% terhadap Garis Kemiskinan, sementara di pedesaan kontribusinya mencapai 10,18%.
Kondisi ini menciptakan crowding-out effect, di mana alokasi anggaran rumah tangga yang seharusnya menjadi modal pengentasan kemiskinan dan investasi gizi anak justru tergerus oleh produk adiktif.
“Hari Pangan dan Hari Pengentasan" Kemiskinan bukan hanya seremoni tapi jadi alarm keras buat kita semua. Di satu sisi, negara berupaya mengisi piring anak dengan Makan Bergizi Gratis (MBG), tapi di rumah, di tengah kondisi ekonomi yang melemah, uang untuk beli telur dan susu justru habis jadi asap beracun ungkap Manik, Jum'at (16/10/2026).
Diforum yang sama Studi Unit Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS-UI) menemukan 7 dari 10 anak penerima MBG tinggal di rumah tangga dengan setidaknya satu perokok.
Menurut Ketua PKJS Aryana Satrya, dampak dari salah alokasi belanja ini langsung menghantam masa depan anak-anak melalui ancaman stunting. Hasil riset dari PKJS-UI lainnya membuktikan adanya hubungan kausalitas yang kuat antara perilaku merokok orang tua dengan penurunan kualitas tumbuh kembang anak.
Hasil studi PKJS-UI menunjukkan bahwa paparan asap rokok dan alokasi belanja yang salah sasaran adalah bom waktu bagi kualitas SDM.
"Anak-anak dari keluarga perokok tidak hanya menghadapi defisit nutrisi secara ekonomi, tetapi juga mengalami gangguan biologis langsung, mulai dari hambatan pertumbuhan tulang hingga risiko infeksi saluran pernapasan berulang yang memicu stres metabolik,” jelas Aryana.
Menurutnya, kerusakan biologis ini beroperasi melalui paparan nikotin yang mengganggu metabolisme sel tulang rawan anak, serta melipatgandakan kerentanan mereka terhadap Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
"Pada akhirnya, jika negara tidak memperketat kendali atas konsumsi rokok, manfaat program gizi seperti program MBG tercederai, dan mimpi kita untuk mengentaskan kemiskinan dan memperbaiki gizi nasional tidak akan pernah tercapai secara paripurna,” pungkas Aryana menutup pernyataannya.(@Ng).