Kreativitas Menggerakkan Ekonomi Sleman, UMKM Didorong Naik Kelas

Kreativitas Menggerakkan Ekonomi Sleman, UMKM Didorong Naik Kelas
Sri Woro Nusandari - Kepala Bidang Usaha Mikro Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Sleman. (Foto Fatmawati)

Sleman-Spektroom : Pemerintah Kabupaten Sleman terus mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar mampu berkembang dan naik kelas. Penguatan dilakukan melalui pelatihan, pendampingan, digitalisasi pemasaran hingga kolaborasi dengan berbagai pihak.

Hal tersebut disampaikan Kepala Bidang Usaha Mikro Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Sleman, Sri Woro Nusandari, dalam press conference bertajuk “Kreativitas Menggerakkan Ekonomi Sleman” yang digelar Dinas Kominfo Sleman di Pendopo Rumah Dinas Bupati Sleman, Selasa (22/9/2026).

Sri Woro mengatakan, saat ini terdapat sekitar 111 ribu UMKM yang tersebar di seluruh kapanewon di Kabupaten Sleman. Usaha tersebut bergerak dalam 17 kelompok usaha, dengan sektor kuliner dan jasa menjadi kelompok yang paling banyak.

Menurutnya, setiap UMKM memiliki persoalan dan kebutuhan yang berbeda. Karena itu, pemerintah tidak hanya memberikan pelatihan secara umum, tetapi juga membuka akses konsultasi dan pendampingan sesuai kebutuhan pelaku usaha.

“Semua UMKM memiliki masalahnya sendiri. Kalau ingin mengikuti pelatihan peningkatan kapasitas, cukup mendaftar melalui link yang sudah kami siapkan dan hadir mengikuti kelas. Semua layanan program ini gratis, tidak dipungut biaya,” katanya.

Penguatan UMKM juga diarahkan pada pemanfaatan teknologi digital. Pelaku usaha didorong memanfaatkan platform digital dan media sosial untuk memperluas pemasaran serta meningkatkan jangkauan produk lokal.

Di sisi lain, potensi dan kearifan lokal Sleman juga terus didorong agar dapat dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi.

Untuk memperkuat pendampingan, Pemkab Sleman mengembangkan kolaborasi pentahelix yang melibatkan pemerintah, pelaku UMKM, perguruan tinggi, komunitas, dan media.

Sri Woro menyebut perguruan tinggi menjadi salah satu mitra penting, terutama dalam pendampingan kewirausahaan dan pemasaran digital. Mahasiswa yang ingin terlibat mendampingi UMKM dipersilakan, dengan tetap berada dalam pendampingan kampus.

Menurutnya, pemasaran masih menjadi salah satu persoalan utama UMKM. Namun, ketika pemasaran digital berhasil meningkatkan pesanan, persoalan baru bisa muncul, yakni keterbatasan kapasitas produksi.

“Kadang ketika sudah masuk pasar digital dan pesanan mulai banyak, produksinya tidak mampu melayani dalam jumlah besar. Ini juga menjadi persoalan yang harus kita dampingi,” ujarnya.

Pemerintah daerah, lanjutnya, akan melakukan intervensi melalui pendampingan dan penguatan kapasitas ketika UMKM menghadapi kondisi tersebut.

Sejumlah program yang disiapkan antara lain Masdaku (Mahasiswa Dampingi Pelaku Usaha), Sleman Mart, PLUT KUMKM, Temu Kemitraan, serta Forum Komunikasi UMKM.

Sri Woro juga mengajak pelaku UMKM mendaftarkan jenis usahanya agar pemerintah memiliki basis data yang lebih akurat.

“Dengan data tersebut, ketika ada permasalahan kami bisa tahu, dan ketika ada program fasilitasi maupun peningkatan kapasitas usaha, UMKM bisa kami libatkan,” pungkasnya.

Berita terkait