Lewat 'Talibun Kabut Asap', Sastra Kalteng Suarakan Pesan Lingkungan Global
Palangka Raya-Spektroom: Karya sastra lokal asal Kalimantan Tengah kini menjadi sorotan karena mampu membawa misi kemanusiaan dan lingkungan ke ranah global. Melalui bait-bait puisi tradisional Talibun Kabut Asap, para sastrawan daerah menyuarakan kegelisahan atas dampak kerusakan alam yang tidak lagi menjadi persoalan satu wilayah saja, melainkan isu bersama umat manusia.
Karya ini menjadi bukti nyata bagaimana pengalaman lokal yang dituliskan secara jujur mampu melampaui batas-batas negara. Sastra tidak sekadar menjadi hiburan, tetapi bertransformasi menjadi sarana komunikasi massa yang efektif untuk menumbuhkan kepedulian universal terhadap kelestarian bumi.
"Ketika pengalaman lokal dituliskan dan dibagikan, sastra dapat melampaui batas negara, menyatukan suara, dan menumbuhkan kepedulian," ujar pengamat sastra daerah saat merefleksikan esensi karya tersebut.

Sebanyak 11 penulis dari provinsi dengan sebutan bumi Tambun Bungai ikut dalam penyusunan kitab yang dijadwalkan terbit pada Desember 2026, dikutip humas MlN 5 Palangka Raya, Sabtu (10/10/2026). Pesan kuat dari Talibun Kabut Asap mengingatkan semua pihak bahwa bumi yang dihuni bersama merupakan tanggung jawab bersama. Melalui medium seni ini, diharapkan masyarakat global tergerak untuk lebih bijak dalam menjaga ekosistem demi masa depan generasi mendatang.
Salah satu karya yang membawa persoalan lokal ke ruang sastra ASEAN adalah Talibun Kabut Asap karya H. Muhamad Asran Dirun. Karya ini berangkat dari kenyataan pahit kebakaran hutan dan lahan yang memicu kabut asap di Kalimantan Tengah sejak akhir Agustus hingga Oktober 2026.
Melalui bait-bait talibun, Asran tidak sekadar menggambarkan alam yang rusak. Ia juga menyuarakan dampak yang dirasakan masyarakat, terutama warga kecil yang aktivitas sekolah, pekerjaan, dan kesehatannya ikut terganggu.
Penggalan Talibun Kabut Asap: Batang kayu hanyut berderet,
Hanyut berderet melintang pukang,
Melintang pukang dibawa bayu,
Rakyat kecil pula kepepet,
Sekolah kerja banyak hilang,
Kesehatan rusak lingkungan layu,
Api membakar hutan membara,
Asap hitam tiada berlalu,
Alam rusak setiap hari,
Akibat serakah hidup tak sejahtera,
Asap menyebar udara berlalu,
Hewan hidup semakin menyendiri
Dari penggalan puisinya yang menggambarkan bagaimana bencana lingkungan dapat merambat ke berbagai sisi kehidupan. Pesan itu membuat sastra tidak berhenti sebagai permainan kata. Puisi menjadi ruang untuk menyampaikan kritik sosial, mengingatkan manusia tentang tanggung jawab terhadap lingkungan, sekaligus membawa pengalaman masyarakat Kalimantan Tengah ke forum sastra yang melibatkan penulis dari berbagai negara.
Penyusunan Kitab Talibun ASEAN digagas Dato’ Sri Asrizal Nur, sastrawan dan penggerak budaya yang memimpin Perkumpulan Rumah Seni Asnur di Jakarta. Sebelum menulis, para peserta mendapat bimbingan teknis mengenai penulisan talibun sesuai kaidah sastra Indonesia