Pameran Pertempuran Lima Hari di Semarang, Generasi Muda Diajak Merawat Ingatan Sejarah
Semarang–Spektroom : Pemahaman generasi muda terhadap Pertempuran Lima Hari di Semarang dinilai masih belum utuh. Padahal, peristiwa tersebut merupakan salah satu tonggak penting dalam revolusi fisik bangsa Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan.
Kurator Kesit Widjanarko mengatakan, Pertempuran Lima Hari di Semarang merupakan pertempuran besar pertama dalam sejarah revolusi fisik Indonesia. Hal itu merujuk pada pernyataan Jenderal A.H. Nasution dalam buku Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia Jilid I.
Pernyataan tersebut disampaikan Kesit saat memberikan sambutan dalam Pameran Pertempuran Lima Hari di Semarang bertajuk “Dari Semarang Kita Mulai” di Rumah Pohan, Jalan Kepodang Nomor 64, kawasan Kota Lama Semarang, Kamis (15/10/2026).
Menurut Kesit, pertempuran di Semarang mendahului sejumlah peristiwa perjuangan besar lainnya, seperti Pertempuran 10 November di Surabaya, Palagan Ambarawa, dan pertempuran di Magelang. Namun, peran penting Semarang dalam sejarah perjuangan kemerdekaan belum banyak dipahami masyarakat.
“Pertempuran di Semarang mendahului pertempuran di Surabaya, Palagan Ambarawa maupun Magelang, namun banyak yang belum menyadari itu,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pameran tahun ini menampilkan sejarah dari perspektif bangsa Indonesia yang terlibat langsung dalam pertempuran. Berbeda dengan pameran tahun sebelumnya yang menyoroti peninggalan masa pendudukan Jepang dan kedatangan Sekutu.
Anggota DPR RI Samuel Wattimena mengungkapkan, berdasarkan diskusinya dengan kurator Moses dari Rumah Pohan, pemahaman generasi muda terhadap peristiwa tersebut baru mencapai sekitar 50 persen.
Karena itu, ia mengapresiasi kehadiran mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Negeri Semarang (Unnes) dalam pameran tersebut. Ia berharap keterlibatan mahasiswa dapat berlanjut dengan perkembangan pemahaman setelah tiga hingga enam bulan mengikuti kegiatan.
Sementara itu, Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Semarang Nur Huda Iskandar mengapresiasi Rumah Pohan yang telah menyediakan ruang untuk merawat sejarah.
Menurutnya, pameran tidak sekadar menampilkan foto, dokumen, dan buku lama, tetapi juga menghidupkan kembali kisah perjuangan agar generasi muda dapat memahami serta meneladani nilai-nilai kepahlawanan.
Ia berharap pameran menjadi ruang edukasi sekaligus mempererat silaturahmi masyarakat.
“Dari sejarah kita belajar arti ketangguhan, dan dari Semarang kita mulai langkah-langkah baru untuk kemajuan bangsa,” katanya.