Trending

Pelepah Sagu Jadi Alat Timba Tradisional Masyarakat Wambon Di Boven Digoel

Pelepah Sagu Jadi Alat Timba Tradisional Masyarakat Wambon Di Boven Digoel
Proses kupas kulit pohon sagu utk alat timba. ( foto:Tony Teniwut)

Boven Digoel-Spektroom : Masyarakat Wambon di Boven Digoel Provinsi Papua Selatan, memiliki pengetahuan tersendiri dalam memanfaatkan alam untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Salah satunya tampak dari penggunaan pelepah sagu yang dalam bahasa Wambon disebut bun. Pelepah sagu ini dimanfaatkan sebagai alat timba tradisional untuk membantu masyarakat mengambil ikan di sungai pada musim kemarau.

Aplonia Alimitop seorang tetua sekaligus pencinta budaya, menjelaskan bahwa penggunaan bun sebagai alat timba sudah dikenal masyarakat sejak dahulu. Bahan ini dimanfaatkan karena dapat ditemukan di lingkungan sekitar dan mudah digunakan untuk membantu aktivitas masyarakat di sungai.

Aplonia Alimitop tetua/pencinta budaya. (foto: Tony Teniwut)

"Dari dulu orang tua sudah menggunakan bun untuk menimba air sebelum mengambil ikan di sungai. Bahannya ada di sekitar kita dan bisa dimanfaatkan untuk membantu pekerjaan sehari-hari," jelas Aplonia, Kamis (15/10/2026).

Alat timba dari bun memiliki keunikan pada bentuk dan sifat bahannya. Ketika digunakan untuk menimba air, air dapat cepat keluar melalui celah-celah pelepah tersebut. Sifat ini membuat alat tidak terlalu lama menahan air sehingga membantu masyarakat dalam proses mengambil ikan.

Disisi lain, Pemanfaatan bun menunjukkan bahwa masyarakat tidak hanya melihat sagu sebagai sumber pangan, tetapi juga mengetahui manfaat bagian lain dari tumbuhan tersebut. Pelepah yang tersedia di alam dapat digunakan kembali menjadi alat sederhana sesuai kebutuhan.

,Pengetahuan ini menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat Wambon. Sejak dahulu, masyarakat belajar mengenali bahan-bahan yang ada di lingkungan mereka, memahami kegunaannya, dan mengolahnya menjadi peralatan yang bermanfaat. Pengetahuan seperti ini berkembang melalui pengalaman dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Menurutnya, pengetahuan mengenai alat tradisional seperti bun perlu terus diperkenalkan kepada anak-anak muda agar mereka mengetahui cara hidup dan keterampilan orang tua terdahulu.

"Anak-anak muda perlu tahu bahwa bahan yang ada di sekitar kita bisa dimanfaatkan. Bun ini sederhana, tetapi ada manfaatnya untuk membantu kita mengambil ikan di sungai,"kata Aplonia.

Dari alat timba bun, masyarakat dapat belajar bahwa tidak semua kebutuhan harus dipenuhi dengan membeli peralatan baru, sebab alam menyediakan berbagai bahan yang dapat dimanfaatkan secara bijaksana, selama penggunaannya disesuaikan dengan kebutuhan dan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan.

Bagi masyarakat Wambon di Boven Digoel, bun bukan sekadar pelepah sagu yang dijadikan alat timba. Di dalamnya terdapat pengetahuan tentang alam, keterampilan praktis, dan pengalaman hidup yang diwariskan oleh para leluhurnya.

Berita terkait

Sleman Berikan Penghargaan Rp46,6 Juta untuk Atlet dan Pelatih Peparpeda DIY 2026

Sleman Berikan Penghargaan Rp46,6 Juta untuk Atlet dan Pelatih Peparpeda DIY 2026

Sleman-Spektroom : Sebanyak 21 atlet pelajar Kabupaten Sleman berhasil membawa pulang 23 medali dalam ajang Pekan Paralimpik Pelajar Daerah (Peparpeda) DIY 2026. Atas capaian tersebut, Pemerintah Kabupaten Sleman memberikan penghargaan senilai Rp46,6 juta kepada atlet dan pelatih yang berkontribusi dalam kompetisi olahraga pelajar penyandang disabilitas tersebut. Penghargaan diserahkan secara

Fatmawaty, Bian Pamungkas
Dinas Pendidikan Kota Ternate Perpanjang Aktivitas Pembelajaran Anak Di Rumah Karena Kualitas Udara Tidak Baik

Dinas Pendidikan Kota Ternate Perpanjang Aktivitas Pembelajaran Anak Di Rumah Karena Kualitas Udara Tidak Baik

Ternate-Spektroom : Sesuai hasil pemantauan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di Kota Ternate berada dalam kondisi tidak baik, Pemerintah Kota Ternate melalui Dinas Pendidikan kembali memperpanjang aktivitas pembelajaran anak di rumah. Perpanjangan masa aktivitas pembelajaran di rumah sesuai dengan surat pemberitahuan Dinas Pendidikan Kota Ternate nomor 420/4164/2026 tertanggal

Nanang Adrany, Pelinus Latuheru
Wujudkan Keluarga Prajurit Sehat, Kodam XV/Pattimura Gelar Ceramah Kesehatan Bahaya PMS dan HIV

Wujudkan Keluarga Prajurit Sehat, Kodam XV/Pattimura Gelar Ceramah Kesehatan Bahaya PMS dan HIV

Ambon-Spektroom: Kodam XV Pattimura menggelar Ceramah Kesehatan tentang Penyakit Menular Seksual (PMS) dan Human Immunodeficiency Virus (HIV) di Aula Basudara Pattimura, Makodam XV/Pattimura, Ambon, Rabu (14/10/2026). Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran prajurit dan keluarga akan pentingnya menjaga kesehatan serta mencegah penularan penyakit, guna mewujudkan keluarga prajurit

Eva Moenandar, Pelinus Latuheru
Pameran Pertempuran Lima Hari di Semarang, Generasi Muda Diajak Merawat Ingatan Sejarah

Pameran Pertempuran Lima Hari di Semarang, Generasi Muda Diajak Merawat Ingatan Sejarah

Semarang–Spektroom : Pemahaman generasi muda terhadap Pertempuran Lima Hari di Semarang dinilai masih belum utuh. Padahal, peristiwa tersebut merupakan salah satu tonggak penting dalam revolusi fisik bangsa Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan. Kurator Kesit Widjanarko mengatakan, Pertempuran Lima Hari di Semarang merupakan pertempuran besar pertama dalam sejarah revolusi fisik Indonesia. Hal

Sigit Budi Riyanto, Bian Pamungkas