Peningkatan Keterampilan, Kreativitas & Inovasi Generasi Muda, Menjadi Kunci Optimalkan Potensi Ekonomi Lampung
Bandarlampung - Spektroom: Program Tailor Made Training (TMT) dilaksanakan berdasarkan Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 6 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Pelatihan Vokasi.
Pelatihan tidak hanya menitikberatkan pada teori, tetapi juga keterampilan praktis, budaya kerja, kedisiplinan, produktivitas, serta kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Kepala Dinas Tenaga Kerja Provinsi Lampung Agus Nompitu, pada Grand Launching Program Tailor Made Training (TMT) Kementerian Ketenagakerjaan se-Provinsi Lampung di Gedung Rektorat UIN Raden Intan Lampung, melaporkan, hingga peluncuran program TMT telah diterima 268 usulan pelatihan dengan jumlah calon penerima manfaat mencapai 5.788 orang.

"Usulan tersebut dihimpun melalui koordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota, perguruan tinggi, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), serikat pekerja, serta berbagai kelompok strategis lainnya, TMT di UIN Raden Intan diikuti 288 mahasiswa yang terbagi dalam 18 kelas." ujar Agus Nompitu.
Pelatihan mencakup 17 bidang kejuruan, antara lain bisnis dan manajemen, teknologi informasi dan komunikasi, perhotelan, pengolahan produk bakery, kewirausahaan, tata rias, tata busana, perikanan, pertanian, barista, pemandu wisata, public speaking, housekeeping, bahasa Jepang, pengelasan, dan kelistrikan.
Diforum yang sama, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mendorong perubahan orientasi generasi muda dari pencari kerja menjadi pencipta lapangan kerja. Salah satu langkah yang ditempuh adalah memperkuat pelatihan vokasi yang disesuaikan dengan kebutuhan dunia usaha dan industri.
Menurut Mirza, peningkatan keterampilan, kreativitas, dan inovasi generasi muda menjadi kunci untuk mengoptimalkan potensi ekonomi Lampung sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Pemerintah Provinsi Lampung sangat sadar bahwa kunci kemajuan dan kemakmuran Lampung ke depan ada pada anak-anak mudanya. Karena itu, mereka harus memiliki keterampilan, kreativitas, dan inovasi agar setelah lulus tidak hanya mencari pekerjaan, tetapi juga mampu membuka lapangan pekerjaan,” kata Mirza, Senin (02/11/2026).
Mirza mengatakan, Lampung memiliki potensi besar dari sisi demografi dan sumber daya alam. Sekitar 71 persen penduduk Lampung berada pada usia angkatan kerja. Namun, besarnya jumlah penduduk usia produktif belum sepenuhnya diimbangi ketersediaan lapangan kerja dan kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan pasar.
Setiap tahun, Lampung menghasilkan sekitar 130.000 lulusan SMA dan sederajat. Dari jumlah tersebut, sekitar 30.000 orang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, sedangkan 100.000 lainnya tidak melanjutkan kuliah.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri karena kesempatan kerja formal masih terbatas, sementara persaingan memperoleh pekerjaan semakin ketat.
Karena itu, pemerintah daerah ingin mengarahkan pelatihan keterampilan agar generasi muda mampu mengolah potensi sumber daya alam menjadi produk bernilai tambah. Terlebih, sekitar 60 persen anak muda Lampung berasal dari keluarga petani.
Mirza mencontohkan komoditas kopi robusta Lampung yang memiliki kontribusi besar terhadap produksi dan ekspor nasional. Sekitar 74 persen ekspor kopi robusta Indonesia disebut berasal dari Lampung. Namun, sebagian besar masih dipasarkan dalam bentuk bahan mentah.
Padahal, pengolahan kopi menjadi produk siap konsumsi berpotensi meningkatkan nilai jual sekaligus membuka peluang usaha baru.
Potensi serupa terdapat pada komoditas pisang, jagung, dan singkong. Menurut Mirza, produk olahan seperti keripik pisang, keripik jagung, dan keripik singkong memiliki pasar luas, tetapi pengembangan industrinya di Lampung belum optimal.
“Kita memiliki sumber daya alam yang luar biasa. Tantangannya adalah bagaimana anak-anak muda bisa mengolahnya menjadi produk bernilai tambah, bukan hanya menjual bahan mentah,” ujarnya.(@Ng).