PKBM Marabayatn Raya Hadir di Landak, Bupati Karolin: Pendidikan Tak Mengenal Usia
Landak – Spektroom : Pendidikan tidak mengenal batas usia. Kesempatan untuk belajar dan memperbaiki masa depan selalu terbuka, termasuk bagi mereka yang terpaksa meninggalkan bangku sekolah.
Semangat inilah yang menjadi pesan penting dalam peresmian Tempat Belajar Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Marabayatn Raya di Desa Sidas, Kecamatan Sengah Temila, Kabupaten Landak, Sabtu (07/11/2026).
Pemerintah Kabupaten Landak menghadirkan PKBM tersebut sebagai upaya memperluas akses pendidikan nonformal sekaligus memberikan kesempatan kedua bagi masyarakat yang belum menuntaskan pendidikan.
Langkah ini juga menjadi bagian dari strategi menekan angka putus sekolah, terutama pada jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Bupati Landak Karolin Margret Natasa mengungkapkan, capaian pendidikan di Kabupaten Landak menunjukkan perkembangan positif.
Rata-rata Lama Sekolah (RLS) meningkat dari 7,24 tahun pada 2023 menjadi 7,46 tahun pada 2024, dan kembali naik menjadi 7,76 tahun pada 2025.
Meski demikian, Karolin menilai masih terdapat pekerjaan besar untuk memastikan anak-anak dapat melanjutkan pendidikan hingga jenjang yang lebih tinggi.
Menurutnya, SMP menjadi titik penting yang membutuhkan perhatian bersama.
“Kalau kita baca, titik yang paling penting itu ada di SMP, Bapak Ibu. Jadi para kepala sekolah SMP, tolong berikan atensi jika ada anak-anak yang tidak dapat melanjutkan,” ujar Karolin.
Ia juga mengajak masyarakat menciptakan lingkungan yang mendukung kegiatan belajar anak, terutama ketika menghadapi ujian.
Kesadaran keluarga dan lingkungan dinilai memiliki peran penting dalam menjaga semangat serta konsentrasi anak untuk belajar.
Upaya tersebut diperkuat melalui program Gerbang Asa (Gerakan Bangkit Anak Putus Sekolah), yang mengedepankan pendekatan jemput bola hingga tingkat desa.
Program ini melibatkan berbagai perangkat daerah untuk mendata, mendampingi, dan membantu anak-anak kembali mengakses pendidikan.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Landak Samsul Bahri menjelaskan, PKBM Marabayatn Raya menyediakan layanan pendidikan kesetaraan Paket A, B, dan C bagi masyarakat yang putus sekolah, belum pernah bersekolah, maupun tidak dapat mengikuti pendidikan formal.
Saat ini, lembaga tersebut melayani 152 warga belajar. Sebanyak 72 peserta berusia 7–24 tahun, terdiri atas 11 peserta Paket A, 11 Paket B, dan 50 Paket C.
Sementara itu, 80 warga belajar berusia 25 tahun ke atas, meliputi 6 peserta Paket A, 40 Paket B, dan 34 Paket C.
PKBM Marabayatn Raya dikelola Megawati bersama tutor dan tenaga pendidik yang mendampingi warga belajar dalam menempuh pendidikan kesetaraan.
Bagi Karolin, kesempatan belajar harus terbuka bagi siapa saja, tanpa memandang usia maupun latar belakang.
Namun, ia mengingatkan pentingnya menjaga kualitas dan integritas pendidikan, termasuk dalam penerbitan ijazah.
“Belajar tuh nggak lihat umur. Siapa bilang orang udah tua nggak bisa belajar? Bisa.
Tapi PKBM juga enggak sembarang-sembarang mengeluarkan ijazah.
Kalau dia nggak pernah sekolah, dia nggak pernah ikut pembelajaran, jangan kasih ijazah,” tegasnya.
Karolin menilai pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang mampu mengubah kehidupan masyarakat.
Berbeda dengan bantuan sosial yang membantu memenuhi kebutuhan dalam waktu pendek, pendidikan membuka peluang bagi masyarakat untuk meningkatkan taraf hidup secara berkelanjutan.
“Bansos hanya menyelesaikan masalah dalam waktu pendek, tetapi pendidikanlah yang akan bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat dalam jangka panjang,” ucapnya.
Di tengah keterbatasan anggaran, Pemkab Landak turut mendukung keberlangsungan kegiatan belajar dengan menghibahkan penggunaan bangunan bekas Puskesmas Sidas sebagai tempat belajar PKBM Marabayatn Raya.
Langkah tersebut menjadi gambaran bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti menghadirkan pelayanan pendidikan.
Dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia, pemerintah daerah berupaya membuka ruang belajar yang lebih dekat dan mudah dijangkau masyarakat.
“Kalau anggarannya memang terbatas, memang kita mungkin tidak punya uang, tapi kita masih punya otak dan otot.
Otak kita tetap bisa diputar, bagaimana kita melakukan sesuatu untuk masyarakat,” pungkas Karolin.
Kehadiran PKBM Marabayatn Raya diharapkan menjadi pintu baru bagi masyarakat Landak untuk kembali belajar, mengejar cita-cita, dan membangun masa depan yang lebih baik.
Sebab, kesempatan memperoleh pendidikan bukan hanya milik anak-anak, melainkan hak setiap orang sepanjang hayat.