Senat Universitas Jambi Kukuhkan 3 Guru Besar Fakultas Hukum, Kedokteran & Keguruan
Jambi - Spektroom: Universitas Jambi menggelegar Rapat Senat Terbuka Pengukuran 3 Guru Besar kepada Prof. Dr. Drs. Syamsurizal M.Si dibidang Kedokteran dan Ilmu Kesehatan & Prof. Dr. Hartati S.H., M.H. dibidang Ilmu Hukum serta Prof. Ahmad Habibi, S.Pd.I, M.Pd, Ph.D dibidang teknologi pendidikan, melalui orasinya berjudul Teknologi Pendidikan Untuk Keadilan Digital, Menjembatani Penerimaan Teknologi dan Kecerdasan Buatan, di Jambi Seni. (12/10/2026).
Prof. Ahmad Habibi memulai dari sebuah pengamatan dan observasi ketimpangan digital Indonesia yang tidak tunggal, melainkan berlapis serta tidak diselesaikan dengan satu kebijakan, satu program atau satu kali pengadaan barang.
"Dalam satu dekade terakhir kita menyaksikan tiga ketidakseimbangan, perangkat datang lebih cepat daripada kesiapan guru, kebijakan datang lebih cepat daripada infrastruktur dan antusiasme datang lebih cepat daripada bukti. " urai Prof. Ahmad Habibi.
Lapisan pertama adalah akses jurang antara kota dan pelosok belum tertutup hanya dengan misalnya pengadaan perangkat laptop dan tablet bisa dikirim dalam hitungan Minggu tetapi sinyal listrik yang stabil dan pendampingan tidak ikut terkirim bersamanya.
Menurut Prof. Ahmad Habibi, lapisan kedua adalah dukungan sebagian dosen dan guru mendapatkan pendampingan yang lebih baik namun sebagian lainnya waktunya tersisa oleh beban administrasi. Sehingga dia tidak tersisa ruang untuk eksperimen dengan cara mengajar yang baru.
"Lapisan ketiga adalah literasi di ruang kelas yang sama, ada mahasiswa yang tumbuh bersama smartphone sejak kecil dan ada pendidik yang baru mengenal Learning Management System (LMS) menjadi penyelamat utama sebagai infrastruktur digital pengganti ruang kelas fisik, ketika pandemi melanda, keduanya sama-sama butuh pendekatan tetapi pendekatannya tentu tidak sama" ujarnnya lagi.
Pada bagian lain pemaparannya Ahmad Habibi juga menyampaikan lapisan yang terakhir lapisan keempat adalah etika, Artificial Inteligence (AI) atau Kecerdasan Buatan, sementara respon kampus beragam dari yang melarang total hingga adanya pembiaran.
"Saya akan menunjukkan dalam disertasi ini bahwa kedua-duanya bisa berjalan bersama-sama dan belum bisa menjawab persoalan, untuk membaca persoalan ini, saya menawarkan tiga poros yang saling mengunci saya sebut saling mengunci karena masing-masing tidak cukup bila berdiri sendiri." rincinya menjelaskan.
Yang pertama adalah Kompas profesional guru dan calon guru, kompas ini penting tetapi pengetahuan tidak otomatis menjadi praktik. Kedua adalah penerimaan teknologi yang memberi kita peta perilaku pengguna namun peta ini perlu dibaca dengan kacamata keadilan bukan sekedar dihitung dari jumlah lisensi atau barang yang dibeli.
Sementara diforum yang sama Ketua Senat Universitas Jambi Prof. Dr. H. Syamsurijal Tan, S.E., M.A. dalam arahannya menyatakan Doktor adalah capaian tertinggi dibidang akademik, sementara Profesor merupakan jabatan fungsional terhormat bagi seorang dosen.
"Kami mengingatkan kepada tiga guru besar yang dikukuhkan hari ini adalah awal ujian moral, karakter dan kejujuran anda sebagai dosen dalam rangka menjalankan Tri Darma Perguruan Tinggi, pengajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat." ujarnya mengingatkan.
Untuk diketahui Prof. Syamsurizal menyampaikan orasi ilmiahnya berjudul Eksplorasi dan Pengembangan Bahan Alam Sebagai Senyawa Bioaktif, untuk Inovasi Farmasi Berkelanjutan. Sedangkan Prof. Hartati, Rekonstruksi Regulasi Kolaborasi Pendanaan Pendidikan, Dalam Perspektif Otonomi Daerah Mewujudkan Keadilan Pendidikan.(@Ng).