Tujuh Puluh Satu Penerbangan Dari Bandara Sentani Dibatalkan Akibat Kabut Asap
Keputusan pembatalan penerbangan dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi cuaca, serta faktor keselamatan dan keamanan penerbangan
Jayapura-Spektroom : Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mengganggu aktivitas penerbangan dari Bandara Internasional Sentani, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua.
Branch Communication & CSR Department Head Bandara Internasional Sentani, Syahrial Sembiring, menjelaskan, sebanyak 14 penerbangan dibatalkan pada Kamis (15/10/2026) karena kondisi cuaca dan kabut asap di bandara tujuan.
“Untuk data kami pada hari Kamis ini ada 14 penerbangan yang dibatalkan akibat cuaca atau kabut asap di bandara tujuan,” jelas Syahrial, Kamis, 15 Oktober 2026.
Dengan penambahan tersebut, total penerbangan yang dibatalkan selama lima hari, sejak 10 hingga 14 Oktober 2026, mencapai 71 penerbangan dan 41 delay. Pembatalan tersebut mencakup penerbangan penumpang maupun kargo.
"Kami mencatat bahwa jumlah penerbangan yang batal dari tanggal 10–15 Oktober berjumlah 71 penerbangan dan 41 penerbangan delay. Itu penerbangan kargo maupun penumpang,” ungkapnya.
Sejumlah rute yang terdampak pembatalan penerbangan antara lain Jayapura–Wamena, Jayapura–Yahukimo, Jayapura–Merauke, dan Jayapura–Timika. Pada Rabu, 14 Oktober 2026, pembatalan terutama terjadi pada rute Jayapura–Wamena dan Jayapura–Yahukimo dan Jayapura-Sorong.
Keputusan pembatalan penerbangan kata Syahrial,c dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi cuaca, terutama jarak pandang di bandara tujuan, serta faktor keselamatan dan keamanan penerbangan
"Kami selalu mengutamakan keselamatan penerbangan, sehingga kami meminta maaf atas ketidaknyamanan ini,” ujarnya.
Guna memantau perkembangan situasi, manajemen Bandara Internasional Sentani terus berkoordinasi dengan maskapai penerbangan dan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG).
Koordinasi dimaksud, dilakukan untuk memperoleh informasi terkini mengenai kondisi cuaca dan jarak pandang atau visibility di bandara tujuan sebagai bahan pertimbangan operasional penerbangan, termasuk saat pesawat lepas landas (takeoff) dan mendarat (landing).
“Kami selalu berkoordinasi dengan pihak terkait maupun BMKG untuk mengetahui visibility atau jarak pandang di bandara tujuan agar bisa melakukan takeoff maupun landing,” tambahnya.
Di tengah pembatalan dan penyesuaian jadwal penerbangan, pihak bandara memastikan pelayanan kepada calon penumpang tetap berjalan. Petugas operasional disiagakan untuk memberikan informasi terbaru dan membantu penumpang selama proses penyesuaian jadwal.
“Kami menyiagakan petugas operasional untuk memberikan informasi serta membantu penumpang selama proses penyesuaian jadwal,” turup Syahrial Sembiring.