Ulos Menenun Warisan, Merajut Kemandirian Ekonomi Perajin Perempuan
Jakarta-Spektroom : Dua lembar kain ulos senilai sekitar Rp1,5 juta menjadi pilihan Sinto Silitonga saat belanja di Pameran Tenun Ulos di Gedung Kementerian Perindustrian, Jakarta Selatan, Rabu (14/10/2026). Kain tradisional Batak itu tidak sekadar dibawa pulang sebagai koleksi, tetapi akan dijahit menjadi pakaian pasangan untuk dirinya dan istri.
Bagi Sinto, pengalaman berbelanja di pameran tersebut memperlihatkan bahwa warisan budaya dapat hadir dalam kehidupan modern. Pengunjung bisa memilih kain sesuai selera, menentukan ukuran, hingga memesan pakaian melalui jasa penjahit yang tersedia di lokasi.
“Kami tertarik karena ada banyak pembaruan corak kain, baju, dan ulos yang sudah cukup lama tidak kami lihat,” katanya.
Pengalaman itu menjadi gambaran bagaimana tenun ulos berpeluang berkembang melampaui fungsi tradisionalnya. Dengan inovasi desain, layanan yang menyesuaikan kebutuhan konsumen, dan pemasaran yang lebih luas, kain khas masyarakat Batak dapat menjangkau pengguna dari berbagai kalangan.
Sinto berharap pameran semacam itu digelar secara berkelanjutan dan menghadirkan produk budaya dari berbagai daerah di Indonesia. Menurut dia, ruang promosi di lingkungan kementerian dapat membantu memperkenalkan karya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) kepada masyarakat luas, termasuk konsumen mancanegara.
Sementara Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji mengatakan, pengembangan ulos perlu dilakukan melalui penguatan kapasitas industri kecil dan menengah (IKM), inovasi produk, serta perluasan akses pasar.
Pernyataan itu disampaikan saat membuka Pameran Tenun Ulos yang diselenggarakan Forum Konferensi Perempuan Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), dengan tema “Menenun Harapan, Merajut Kemandirian” pada Selasa (13/10/226).
Menurut Sarmuji, ulos memiliki potensi ekonomi seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap produk lokal. Pengembangan desain perlu mengikuti kebutuhan pasar tanpa menghilangkan karakter budaya yang melekat pada kain tersebut.
"Kini, ulos telah dikembangkan menjadi beragam produk, mulai dari busana siap pakai, aksesori fesyen, dekorasi interior, hingga cenderamata," katanya.

Diversifikasi ini membuka kesempatan bagi perajin untuk menciptakan produk yang lebih beragam dan menjangkau konsumen yang lebih luas.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang disampaikan Sarmuji mencatat terdapat 43 sentra tenun ulos di sejumlah kabupaten dan kota di Sumatera Utara, antara lain Tapanuli Utara, Toba, Tapanuli Selatan dan Simalungun. Sentra-sentra tersebut menjadi basis produksi yang dapat diperkuat melalui peningkatan keterampilan, kualitas, dan produktivitas.
Peluang pasar juga terlihat dari kinerja ekspor tenun ikat Indonesia. Pada 2025, nilainya tercatat sebesar US$28.000. Sementara itu, pada semester I 2026, ekspor mencapai US$34.000, meningkat 150 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$13.600.
Untuk memperkuat daya saing, Kementerian Perindustrian mendorong pembinaan sumber daya manusia dan kewirausahaan, fasilitasi indikasi geografis, revitalisasi sentra, pembaruan mesin dan peralatan, serta jaminan bahan baku. Promosi dan keikutsertaan dalam pameran di dalam maupun luar negeri juga menjadi bagian dari upaya memperluas pasar.
Sementara, Bagi masyarakat Batak, ulos bukan sekadar produk tekstil, melainkan identitas budaya yang menyertai berbagai tahapan kehidupan, mulai dari kelahiran, pernikahan, hingga upacara kedukaan.
Karena itu, pengembangan industri ulos tidak hanya berbicara tentang nilai penjualan. Di dalamnya terdapat upaya menjaga keterampilan antargenerasi, membuka ruang berkarya bagi perempuan, dan memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat.
Harapannya, setiap lembar ulos yang dikenakan bukan hanya menghadirkan keindahan motif, tetapi juga membawa manfaat bagi tangan-tangan yang menenunnya. Dengan demikian, tradisi tetap terjaga sekaligus memperoleh tempat dalam perkembangan ekonomi modern.