Trending

46 Tahun WALHI Ajak Pertobatan Ekologis

46 Tahun WALHI Ajak Pertobatan Ekologis
Poster selamatkan bumi yang jadi keprihatinan bersama.(Tangkapan layar AI)

Banjarmasin - Spektroom : Sedikit NGO yang mampu bertahan berpuluh tahun, dan konsisten dengan isu yang terus disuarakannya, salah 1 yang sedikit itu tentu saja WALHI - Wahana Lingkungan Hidup Indonesia.

Noorhalis Majid seorangaktivis sosial, pemerhati lingkungan, dan mantan Kepala Perwakilan Ombudsman RI Provinsi Kalimantan Selatan (2010–2020).

Tahun 2026, Walhi memasuki usia ke 46, mereka mengajak melakukan pertobatan ekologis. Tema yang diusung dalam rangka merayakan ulang tahun ke 46 “Triple Planetary Crisis: Saatnya Pertobatan Ekologis Melawan Krisis Iklim, Polusi, dan Kepunahan Hayati”.

"Tidak dapat dipungkiri, manusia terus melakukan kerusakan. Hutan dibabat dan digunduli, gunung dibongkar untuk tambang, menyebabkan krisis iklim. Suhu bumi makin “panas manggantang” dan cuaca kemudian menjadi sangat ekstrim," ucap Noorhalis Majid seorang aktivis sosial, pemerhati lingkungan, dan mantan Kepala Perwakilan Ombudsman RI Provinsi Kalimantan Selatan (2010–2020) Kamis (15/10/2026).

Polusi juga tak terhindarkan, mulai dari polusi udara dengan kabut asap “palak” sa-alaman, polusi suara dan kebisingan, dan polusi berupa pencemaran yang menyeluruh dari darat, sungai dan lautan. Tak terelakkan, mengakibatkan kepunahan hayati. Ketika hayati menjadi punah, maka manusia pasti juga akan punah.

Ketiga krisis yang dikhawatirkan Walhi saling memperparah 1 dengan lainnya. Dari hari ke hari, di sebagian bumi yang manusianya tidak pernah sadar atas kondisi lingkungan yang semakin buruk, justru terus berlomba melakukan eksploitasi. Termasuk di Indonesia dan Kalimantan Selatan. Dampaknya menyeluruh, termasuk daerah-daerah yang tidak merusak, karena perubahan iklim meliputi seluruh planet ini.

Walhi mengajak melakukan pertobatan ekologis. Tobat secara bersama-sama, karena kerusakan yang terus dilakukan, tidak ubahnya seperti menggali lubang kubur bagi diri sendiri. Mempercepat kepunahan seluruh kehidupan yang pada akhirnya mengundang percepatan kiamat.

Bukankah kerusakan ekologis menjadi semakin parah, karena sistem dan tata kelola, serta aturan maupun regulasi yang berhubungan dengan lingkungan, memang dibuat untuk merusak lingkungan itu sendiri?

Aturannya memang curang dan tidak memberikan keadilan pada lingkungan. Termasuk tidak adil antar generasi. Sehingga generasi selanjutnya, hanya ditinggali kerusakan dan kondisi lingkungan yang semakin buruk.

Pertobatan paling utama adalah pertobatan terkait tata kelola lingkungan. Dimulai dengan mengevaluasi seluruh izin yang menyebabkan lingkungan rusak, setelah itu menolak izin baru dan kemudian perlahan-lahan melalui pengelolaan yang ramah dan berkelanjutan, memulihkan lahan-lahan yang sudah rusak.

Selama 46 tahun, Walhi tanpa lelah mengingatkan, dan bahkan kali ini mengajak untuk bertobat bersama-sama. Tobat dengan sebenar-benarnya tobat. Tentu saja dimulai dari kesadaran bumi harus diselamatkan dari krisis, agar kehidupan tetap berlanjut – berkesinambungan secara adil.

Bumi bukan sekadar tempat kita hidup, tetapi juga titipan yang harus kita jaga untuk generasi mendatang. Kerusakan lingkungan, kebakaran hutan, pencemaran udara, dan perubahan iklim menjadi pengingat kita tidak boleh tinggal diam. Selamatkan Bumi, Selamatkan Masa Depan.

Berita terkait

Produksi Sawit Kalbar Rp60 T Petani Rakyat Masih Terhimpit Masalah

Produksi Sawit Kalbar Rp60 T Petani Rakyat Masih Terhimpit Masalah

Pontianak - Spektroom: Nilai produksi kelapa sawit Kalimantan Barat (Kalbar) diperkirakan mencapai Rp60 triliun per tahun. Namun, besarnya potensi ekonomi komoditas unggulan itu belum otomatis menjamin kesejahteraan petani rakyat, yang masih menghadapi persoalan pupuk, legalitas lahan, hingga mahalnya biaya sertifikasi. Kesenjangan antara nilai produksi dan persoalan yang dihadapi petani menjadi sorotan

Apolonius Welly, Afrizal Aziz