Gedung Medan Sepakat, Jejak Perjuangan dan Kenangan yang Tersisa
Pontianak - Spektroom : Nama Medan Sepakat mungkin menjadi pilihan yang tepat untuk sebuah gedung yang pernah menyimpan semangat kebersamaan, pergerakan, dan perjuangan masyarakat Kalimantan Barat.
Kini, bangunan itu telah tiada. Namun, jejak sejarahnya masih tersimpan dalam ingatan segelintir orang.
Gedung Medan Sepakat berdiri di Landraadweg 16 atau Jalan Jenderal Urip 16, persis di sebelah kiri gedung Pengadilan Negeri Pontianak.
Pada penghujung 1930-an, tempat ini dikenal sebagai lokasi kursus Bahasa Inggris pada malam hari sekaligus ruang pertemuan para tokoh dan pemimpin masyarakat.
Di dalamnya, para tokoh pergerakan berkumpul sambil bermain biliar, bridge, dan catur.
Di sisi kiri gedung terdapat bar kecil yang dikelola pasangan suami istri Gusti Sulung Lelanang.
"Menjadi saksi perjuangan"
Medan Sepakat memiliki peran penting dalam perjalanan sejarah Kalimantan Barat. Hampir seluruh anggota aktif perkumpulan ini, konon, menjadi korban keganasan militer Jepang.
Di antara mereka terdapat Gusti Sulung Lelanang, HM Rais HA Rahman, Panangian Harahap bergelar Mangaraja Sutan Gunung Tua, dr. Rubini, Mohamad Jatim, dan Ambo Pasir. Mereka diyakini dimakamkan di Makam Juang Mandor.
Pada masa itu, Medan Sepakat menjadi salah satu perkumpulan yang bersaing dengan Indische Europeesche Vereniging (IEV), yang beranggotakan kaum Indo-Belanda dan golongan gelijksgestelden. Gedung IEV berada di Jalan Diponegoro Nomor 233, Pontianak.
Memasuki zaman NICA, akhir 1945 hingga 1949, Medan Sepakat kembali menjadi pusat kegiatan sosial.
Di gedung ini berhimpun Panitija Penjokong Keuarga Malang Korban Djepang (PPKMKD), yang bertujuan mengumpulkan dana bagi janda dan ahli waris korban keganasan Jepang serta membangun tugu peringatan.
Melalui gotong royong dan kerja keras para pemuka masyarakat, tugu itu akhirnya berdiri di persimpangan depan kantor Bea dan Cukai serta Kantor Pos dan Telegraf.
Sayangnya, bangunan bersejarah tersebut kemudian diratakan dengan tanah.
"Dari ruang sosial menuju perjuangan pemuda"
Medan Sepakat juga menjadi tempat pertemuan pemuda militan dan republikein pada awal 1946.
Mereka berupaya memberangkatkan bekas anggota Heiho ke Jawa untuk melanjutkan perjuangan.
Di antara mereka terdapat WD Mochtar, aktor film legendaris, dan Sjarief Mohammad Kesumajudha atau Wan Amat, yang kelak menjadi Bupati Sanggau.
Pada zaman NICA, gedung ini turut menjadi sekretariat Angkatan Pemuda Indonesia (API), dengan tokoh-tokoh seperti Rd Wariban, Tjoet Rachman, Abang Achmad Noor, Ibrahim Saleh, J Lumenta, dan A Hadi Ravaie.
Medan Sepakat juga pernah menjadi tempat pertemuan perkumpulan olahraga, termasuk Semangat Baru.
Kini, gedung itu tinggal kenangan. Namun, kisahnya mengingatkan bahwa di balik bangunan yang hilang, pernah tumbuh solidaritas, perjuangan, dan keberanian yang turut membentuk sejarah Kalimantan Barat.
Penulis: Syafaruddin DaEng Usman, penulis freelance sejak 1986, peminat kajian sejarah dan budaya Nusantara.