Kekeringan Meluas di Banyumas, 82.667 Warga Terdampak dan 7,3 Juta Liter Air Bersih Disalurkan
Banyumas-Spektroom : Dampak kekeringan di Kabupaten Banyumas masih meluas. Hingga 14 Oktober 2026, sebanyak 97 desa/kelurahan di 24 kecamatan tercatat terdampak, dengan total 23.951 kepala keluarga (KK) atau 82.667 jiwa mengalami dampak kekurangan air bersih.
Data Pos Komando Penanganan Darurat Bencana Kekeringan dan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Kabupaten Banyumas menunjukkan, pemerintah telah menyalurkan 7.345.000 liter air bersih untuk membantu memenuhi kebutuhan warga terdampak.
Distribusi dilakukan melalui 1.455 ritase pengiriman. Penyaluran tersebut menjadi salah satu upaya untuk menjaga ketersediaan air bagi masyarakat, terutama di wilayah yang kesulitan memperoleh sumber air bersih selama musim kemarau.
Selain permukiman, dampak kekeringan juga tercatat pada 20 fasilitas umum (fasum). Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan kekurangan air tidak hanya memengaruhi kebutuhan rumah tangga, tetapi juga berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat di fasilitas pelayanan umum.
Peta sebaran dalam laporan tersebut memperlihatkan wilayah terdampak kekeringan sekaligus titik-titik yang mengalami kebakaran hutan dan lahan. Kedua kondisi itu menjadi perhatian dalam penanganan darurat di Banyumas.
Di tengah cuaca kering, risiko karhutla perlu diwaspadai, terutama pada kawasan yang memiliki vegetasi mudah terbakar. Masyarakat diimbau tidak melakukan pembakaran sampah maupun membuka lahan dengan cara membakar, serta segera melaporkan apabila menemukan titik api.
Penanganan kekeringan membutuhkan dukungan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, petugas lapangan hingga masyarakat. Penggunaan air secara bijak juga penting dilakukan agar persediaan yang ada dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan prioritas.
Data dari BPBD kabupaten Banyumas yang diperbarui pada Rabu (14/10/2026) tersebut menjadi gambaran besarnya kebutuhan bantuan air bersih di Banyumas. Dengan puluhan ribu keluarga terdampak, kelancaran distribusi dan pemerataan bantuan menjadi faktor penting agar warga di wilayah yang mengalami kesulitan air tetap dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Pemerintah daerah melalui Pos Komando Penanganan Darurat Bencana terus melakukan upaya penanganan sesuai kondisi di lapangan. Perkembangan dampak kekeringan dan kebutuhan air bersih perlu terus dipantau, terutama apabila musim kemarau masih berlangsung.