Trending

Ketika Tempe dan Gamelan Menjadi Cerita yang Dibawa Pulang Wisatawan Jerman

Ketika Tempe dan Gamelan Menjadi Cerita yang Dibawa Pulang Wisatawan Jerman
Beberapa Wisatawan Jerman menikmati dan mengikuti roses pembuatan tempe keripik di desa wisata Candirejo, Borobudur, Kab. Magelang.(Kamis, 05/11/2026)(Foto: Diskominfo/Sigit)

Magelang-Spektroom : Deretan rumah dan aktivitas warga menjadi pemandangan yang dinikmati sekitar 10 wisatawan asal Jerman saat menyusuri Desa Wisata Candirejo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang. Mereka tidak sedang terburu-buru menuju destinasi wisata berikutnya. Dengan menaiki delman, rombongan itu justru menikmati perjalanan perlahan, menyaksikan kehidupan masyarakat desa dari dekat.

Perjalanan tersebut membawa mereka pada pengalaman yang tidak biasa. Bukan hanya menikmati pemandangan pedesaan, para wisatawan juga diajak masuk ke ruang-ruang kehidupan warga, mulai dari industri rumahan hingga kesenian tradisional.

Salah satu persinggahan mereka adalah tempat produksi tempe. Di sana, wisatawan melihat bagaimana kedelai diolah menjadi tempe, kemudian diproses menjadi keripik. Sesuatu yang selama ini mungkin hanya mereka kenal sebagai makanan siap santap, kini terlihat sebagai hasil kerja dan keterampilan masyarakat.

Ina, wisatawan asal Jerman, mengaku pengalaman tersebut menjadi salah satu hal yang paling membekas. Ia baru pertama kali menyaksikan langsung proses pembuatan keripik tempe.

Menurutnya, di balik camilan sederhana yang biasa dinikmati, terdapat proses panjang dan kerja keras masyarakat untuk menghasilkan produk tersebut.

Pengalaman lain muncul ketika rombongan diajak memainkan gamelan bersama warga. Suara alat musik tradisional itu menghadirkan suasana berbeda bagi wisatawan yang terbiasa dengan musik dari negara asalnya.

Kunjungan kemudian ditutup dengan menikmati teh hangat dan makanan ringan. Suasana akrab terbangun di antara wisatawan dan masyarakat yang menyambut mereka.

“Hari ini sungguh luar biasa. Ada banyak hal berbeda yang bisa kami lihat, mulai dari pengalaman naik kuda, proses pembuatan berbagai produk, hingga melihat bagaimana masyarakat di sini menjalani kehidupan sehari-hari. Semua orang menyambut kami dengan sangat hangat dan ramah,” ungkap Ina, Kamis (5/11/2026).

Anke, wisatawan asal Jerman lainnya, juga mengaku menikmati kunjungan pertamanya ke Candirejo. Baginya, keramahan masyarakat menjadi bagian penting dari pengalaman perjalanan tersebut.

“Saya juga berasal dari Jerman, tepatnya dari wilayah utara dekat Hamburg. Ini pertama kalinya saya berkunjung ke sini, dan saya benar-benar menikmatinya. Semuanya sangat menyenangkan,” katanya.

Pengalaman para wisatawan itu bukan kebetulan. Candirejo memang mengembangkan pariwisata dengan menjadikan kehidupan masyarakat sebagai bagian utama dari daya tariknya.

Ketua Koperasi Desa Wisata Candirejo, Ahmad Mudhofar Ersyidik, menjelaskan, gagasan desa wisata mulai dirintis pada 1996. Keprihatinan pemerintah desa saat itu muncul karena meskipun berada tidak jauh dari Candi Borobudur, masyarakat belum memperoleh manfaat ekonomi secara optimal dari kunjungan wisatawan.

Setelah mendapatkan pendampingan lembaga swadaya masyarakat pada 1999, Candirejo menjadi proyek percontohan desa wisata Kabupaten Magelang dan diresmikan pada 2003.

Pengelolaannya kemudian dilakukan melalui Koperasi Desa Wisata Candirejo yang menghubungkan berbagai potensi warga, mulai dari kelompok dokar, katering, kesenian, homestay hingga industri rumahan.

Dampaknya mulai terlihat. Pada 2025, omzet pengelolaan desa wisata mencapai sekitar Rp2,25 miliar. Melalui donasi dusun dan pembagian sisa hasil usaha, manfaat ekonomi diupayakan menjangkau masyarakat di 15 dusun.

“Kurang lebih 80 persen masyarakat bisa tersentuh, baik secara langsung maupun tidak langsung,” jelas Ersyidik.

Ia menyebut Candirejo yang dahulu dikenal sebagai desa miskin kini mengalami perubahan. Pariwisata turut membuka lapangan pekerjaan, menghidupkan kesenian tradisional, sekaligus menumbuhkan kepedulian masyarakat terhadap kebersihan dan kelestarian lingkungan.

Pengalaman Candirejo menjadi gambaran bahwa desa wisata tidak harus dibangun dengan menghadirkan sesuatu yang serba baru. Kehidupan sehari-hari warga, keterampilan membuat makanan, kesenian, hingga keramahan masyarakat justru bisa menjadi daya tarik.

Di tengah rencana Pemerintah Provinsi Jawa Tengah meluncurkan 1.000 desa wisata baru pada 23–25 November 2026, Candirejo memperlihatkan bahwa keberhasilan pariwisata desa bukan semata-mata diukur dari banyaknya pengunjung.

Lebih dari itu, ada pertanyaan penting: seberapa jauh kehadiran wisatawan membawa manfaat bagi masyarakat yang menjadi tuan rumahnya?

Berita terkait

Drainase Babatan Dikebut, Saluran Pembuangan Waduk Unesa Ditargetkan Rampung 11 November

Drainase Babatan Dikebut, Saluran Pembuangan Waduk Unesa Ditargetkan Rampung 11 November

Surabaya-Spektroom : Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mempercepat pembangunan saluran drainase di kawasan Babatan, Kecamatan Wiyung, untuk mengantisipasi genangan akibat limpasan air Waduk Unesa saat hujan. Proyek jaringan pipa sepanjang 492 meter tersebut ditargetkan selesai pada 11 November 2026. Pembangunan drainase ini dilakukan menyusul kejadian pada musim hujan tahun lalu, ketika

Bian Pamungkas