Trending

Petik Stroberi di Batu, Jawara-Jawarawati Pensiunan RRI Nikmati Sensasi Baru di Tengah Tantangan Panen

Petik Stroberi di Batu, Jawara-Jawarawati Pensiunan RRI Nikmati Sensasi Baru di Tengah Tantangan Panen
Kuminita Jawara-Jawarawati termasuk Bu Niken memetik Stroberi dilahan Lumbung Stroberi Batu. ( Foto; Buang )

Batu |Spektroom : Komunitas Jawara-Jawarawati yang terdiri atas para pensiunan Kepala Stasiun Radio Republik Indonesia (RRI), mantan direktur, kepala bidang, dan pegawai LPP RRI menikmati pengalaman berbeda dengan memetik stroberi langsung di Lumbung Strawberry, Desa Pandanrejo, Kota Batu, Minggu (11/10/2026).

Kegiatan tersebut menjadi pengalaman istimewa bagi sejumlah peserta yang selama ini lebih akrab dengan wisata petik apel di Kota Batu. Selain menikmati buah stroberi segar, mereka juga berkesempatan mengenal lebih dekat proses budidaya hingga teknik memetik buah yang benar.

Namun, di balik ramainya wisata petik stroberi, pengelola Lumbung Strawberry tengah menghadapi tantangan menjaga kualitas dan ketersediaan buah. Perubahan cuaca yang tidak menentu menyebabkan banyak stroberi rusak sehingga jumlah produksi menurun. Kondisi ini memaksa pengelola membatasi sementara reservasi wisatawan agar pengalaman memetik buah tetap berkualitas.

Memasuki lahan petik Stroberi wisatwan naik Kereta. ( Foto : Buang )

Leader Tour Guide Lumbung Strawberry, Riyan Maulana, mengatakan pembatasan reservasi merupakan langkah yang harus diambil karena tanaman dan buah stroberi masih dalam tahap pemulihan.

“Karena kondisi buah masih dalam tahap pemulihan dan perbaikan. Faktor cuaca juga sangat berpengaruh. Pagi sampai siang panas, malam hari hujan sehingga banyak buah yang rusak. Sementara jumlah pengunjung sedang membludak,” ujar Riyan.

Para Jawara-Jawarawati, dengan membawa alat pengumpul buah stroberi siap memetik, ( Foto : Buang )

Menurut dia, pengelola tetap memprioritaskan wisatawan yang telah melakukan reservasi jauh hari sebelumnya serta pelanggan reguler. Sementara pengunjung yang datang langsung tanpa reservasi disarankan melihat kondisi kebun terlebih dahulu sebelum membeli tiket.

“Kami tidak ingin wisatawan datang dengan harapan tinggi, tetapi tidak mendapatkan pengalaman memetik buah yang maksimal. Karena itu, kami lebih memilih membatasi kunjungan sementara daripada mengecewakan pengunjung,” ungkapnya.

Menurut dia, pengelola tetap memprioritaskan wisatawan yang telah melakukan reservasi jauh hari sebelumnya serta pelanggan reguler. Sementara pengunjung yang datang langsung tanpa reservasi disarankan melihat kondisi kebun terlebih dahulu sebelum membeli tiket.
“Kami tidak ingin wisatawan datang dengan harapan tinggi, tetapi tidak mendapatkan pengalaman memetik buah yang maksimal. Karena itu, kami lebih memilih membatasi kunjungan sementara daripada mengecewakan pengunjung,” ungkapnya.

Produksi stroberi turun

Riyan menjelaskan, saat memasuki masa panen raya, Lumbung Strawberry mampu menghasilkan sekitar 70–80 kilogram stroberi segar setiap hari untuk memenuhi kebutuhan wisatawan.


Selain dijual sebagai buah segar, sekitar 30 kilogram stroberi per minggu biasanya dimanfaatkan sebagai bahan baku berbagai produk olahan UMKM. Produk tersebut antara lain es krim, selai, sari buah, cuka stroberi, keripik, pastel, hingga steak stroberi. Namun, kondisi produksi saat ini mengalami penurunan cukup signifikan.


“Untuk kondisi sekarang, produksi memang menurun. Produk olahan hanya sekitar 15 kilogram, sedangkan stok stroberi segar untuk wisatawan sekitar 20 sampai 25 kilogram yang tersebar di 15 kebun,” jelas Riyan.


Penurunan produksi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pengelola, terutama ketika jumlah wisatawan meningkat. Pengelola harus menjaga keseimbangan antara memenuhi permintaan pengunjung dan memberikan kesempatan bagi tanaman untuk kembali menghasilkan buah berkualitas.


Pembatasan reservasi menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan wisata petik stroberi sekaligus mempertahankan kepercayaan pengunjung.

Niken Widiastuti: Pengalaman pertama yang mengesankan

Pimpinan umum Spektroom Anhar Achmad bersama Wakil Ketua Dewan Pers Niken Widyiastuti meminum juice Stroberi, usai petik di lahan, ( Foto : Buang )

Di tengah tantangan tersebut, Niken Widiastuti, mantan Sekretaris Jenderal Kementerian Komunikasi dan Informatika sekaligus mantan Direktur Utama LPP RRI, mengaku senang dapat mengikuti kegiatan petik stroberi bersama rekan-rekan Jawara-Jawarawati dari berbagai daerah di Indonesia.

“Senang sekali saat ini kami bersama Jawara-Jawarawati LPP RRI. Pesertanya berasal dari berbagai wilayah di Indonesia. Ada mantan direktur, mantan kepala stasiun, kepala bidang, staf, dan jajaran pimpinan LPP RRI lainnya,” ujarnya.

Niken mengungkapkan, kunjungannya ke kebun stroberi menjadi pengalaman pertama yang memberikan kesan tersendiri. Selama ini, ia belum mengetahui secara dekat bentuk tanaman stroberi maupun cara memetik buahnya langsung dari tanaman.

Menurut dia, buah stroberi tersembunyi di balik rimbunnya daun sehingga pengunjung perlu teliti untuk menemukan buah yang siap dipetik.

“Pengalamannya asyik sekali. Selama ini saya tidak tahu seperti apa tanaman stroberi. Ternyata tanamannya seperti tanaman sayur, dan buahnya berada di balik daun-daunnya. Kalau mau memetik, kita harus melihat dengan teliti,” tuturnya.

Ia juga menjelaskan bahwa memetik stroberi tidak bisa dilakukan sembarangan. Pengunjung harus menggunakan gunting dan memotong tangkai dengan tepat agar buah tidak rusak. Kerusakan pada buah dapat mempercepat pembusukan.

Niken pun mengajak masyarakat menjadikan wisata kebun stroberi sebagai alternatif untuk menyegarkan pikiran sekaligus menikmati suasana alam.

“Kalau mau healing, datang ke kebun stroberi di Malang,” katanya.

Edy Ivan: Sensasinya luar biasa

Pengalaman serupa dirasakan Edy Ivan, Sekretaris Persatuan Pensiunan RRI. Ia menyebut kegiatan petik stroberi memberikan sensasi luar biasa, terutama karena menjadi pengalaman pertamanya memetik stroberi langsung dari kebun.

“Ini sensasinya sangat luar biasa. Biasanya kita tahunya hanya petik apel di Batu. Ternyata di sini ada petik stroberi dengan kebun yang luas sekali. Sensasinya tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Yang penting bagi saya, ini pengalaman pertama kali yang saya lakukan,” ungkap Edy.

Bagi para pensiunan RRI, kegiatan tersebut bukan sekadar kunjungan wisata. Pertemuan lintas daerah itu juga menjadi ruang untuk mempererat hubungan persahabatan setelah bertahun-tahun menjalani pengabdian di dunia penyiaran publik.

Martoyo belajar ketelitian memetik buah

Sementara itu, Martoyo, mantan Direktur Sumber Daya Manusia LPP RRI, menilai kegiatan memetik stroberi memberikan pelajaran tentang ketelitian dan proses budidaya tanaman.

Setelah mendapatkan penjelasan dari Riyan selaku pengelola kebun, Martoyo memahami bahwa memetik stroberi membutuhkan teknik tertentu agar buah tidak rusak. Penataan tanaman dalam polybag juga harus diperhatikan agar pertumbuhannya optimal dan buah dapat berkembang dengan baik.

“Biasanya saya hanya menikmati buahnya. Saya tidak tahu bagaimana nikmatnya memetik langsung. Setelah dijelaskan, ternyata memetik stroberi pun harus memperhatikan posisi dan tekniknya supaya buah tidak rusak,” kata Martoyo.

Para Jawarawati, menunjukkan buah Stroberi dengan wajah puas. ( Foto : Buang )

Ia juga mengapresiasi penataan tanaman di kebun tersebut. Menurut dia, pengelolaan tanaman membutuhkan perhatian terhadap ketinggian dan jarak antartanaman agar masing-masing dapat tumbuh dengan baik.

Hal menarik lainnya, Martoyo yang mengaku biasanya menghindari makanan asam karena memiliki pantangan terkait asam lambung, justru berani mencicipi stroberi yang dipetik langsung dari kebun.

“Kalau saya bandingkan dengan pengalaman di tempat lain, stroberi di sini menurut saya tidak terlalu asam. Biasanya saya menghindari makanan asam, tetapi tadi saya berani langsung makan tiga buah,” ujarnya.

Menjaga kualitas di tengah lonjakan wisatawan

Kunjungan Jawara-Jawarawati berlangsung ketika Lumbung Strawberry menghadapi tantangan menjaga produksi di tengah meningkatnya minat wisatawan. Situasi ini memperlihatkan bahwa wisata petik buah tidak hanya bergantung pada jumlah pengunjung, tetapi juga pada kondisi tanaman, cuaca, dan kemampuan pengelola menjaga ketersediaan hasil panen.

Usai petik, hasilnya ditimbang untuk dibawah pulang. ( foto : buang )

Keputusan membatasi reservasi menjadi upaya agar wisatawan tidak sekadar datang, tetapi juga memperoleh pengalaman memetik stroberi sesuai harapan. Pada saat yang sama, pemanfaatan buah untuk produk olahan UMKM menunjukkan bahwa budidaya stroberi memiliki kaitan dengan kegiatan ekonomi masyarakat setempat.

Bagi Jawara-Jawarawati, kunjungan tersebut menghadirkan pengalaman baru sekaligus mempererat silaturahmi. Di tengah suasana kebun yang hijau, mereka menikmati buah segar, belajar tentang budidaya, dan membawa pulang cerita kebersamaan.

Wisata petik stroberi di Batu pun menjadi pengingat bahwa di balik pengalaman sederhana yang menyenangkan bagi pengunjung, terdapat kerja keras pengelola dalam merawat tanaman, menghadapi perubahan cuaca, dan menjaga kualitas hasil panen.

Berita terkait

Dari Masker Hingga Modal Usaha, Upaya Fairid Naparin Jaga Nafas Ekonomi Pasar Besar

Dari Masker Hingga Modal Usaha, Upaya Fairid Naparin Jaga Nafas Ekonomi Pasar Besar

Palangka Raya-Spektroom: Kabut asap bukan hanya mengganggu pernapasan, tetapi juga membuat aktivitas ekonomi pedagang Pasar Besar Palangka Raya ikut terengah-engah. Ketika warga enggan keluar rumah dan jumlah pembeli menurun, pedagang harus menghadapi dua persoalan sekaligus: menjaga kesehatan dan mempertahankan penghasilan. Situasi tersebut tergambar dari kesaksian Sakrani, salah seorang

Polin, Anggoro AP