Raja dan Sultan Nusantara Bersatu, Keraton Jadi Perekat Persatuan Bangsa
Jakarta-Spektroom : Sebanyak 150–200 raja, sultan, pemangku adat, dan pelestari budaya dari berbagai daerah di Indonesia dijadwalkan berkumpul di Jakarta pada 15–18 Oktober 2026 dalam Sarasehan Nasional Keraton Nusantara dan Musyawarah Agung Raja-Sultan Nusantara Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN) 2026. Forum ini akan membahas perlindungan warisan budaya keraton sekaligus memperkuat posisi Jakarta sebagai etalase kebudayaan Nusantara menjelang lima abad Jakarta pada 2027.
Kepala Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, Mochammad Miftahulloh Tamary, mengatakan pertemuan tersebut menjadi ruang strategis untuk menyatukan pandangan mengenai peran keraton dalam menjaga persatuan bangsa serta menghadapi tantangan pelestarian tradisi dan peninggalan leluhur.
“Para peserta akan membahas peran historis dan kekinian keraton sebagai perekat persatuan bangsa, tantangan pelestarian warisan budaya, serta peluang kolaborasi untuk menjadikan Jakarta sebagai etalase budaya Nusantara menjelang lima abad Jakarta,” ujar Miftahulloh di Jakarta, Rabu (14/10/2026).
Menurut dia, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mendukung penyelenggaraan kegiatan tersebut melalui sinergi lintas perangkat daerah. Dukungan itu tidak hanya berupa fasilitasi acara, tetapi juga pengenalan kekayaan sejarah dan kebudayaan Ibu Kota kepada para peserta.
Pada 15 Oktober 2026, Dinas Kebudayaan DKI Jakarta akan menyambut peserta melalui pertunjukan tari selamat datang dan memfasilitasi kunjungan ke Museum Sejarah Jakarta, Museum Seni Rupa dan Keramik, serta Museum Wayang.
Ketiga museum tersebut dipilih untuk memperkenalkan beragam jejak sejarah, karya seni, dan tradisi yang menjadi bagian dari perjalanan kebudayaan Jakarta dan Indonesia.
“Jakarta memiliki kekayaan budaya yang beragam. Kami berharap kunjungan ini dapat memberikan pengalaman sekaligus memperlihatkan upaya pelestarian warisan budaya yang dilakukan di Jakarta,” kata Miftahulloh.
Sementara itu, Ketua Umum FSKN, YM Brigjen Pol. (Purn.) Mapparessa, menegaskan, Musyawarah Agung Raja-Sultan Nusantara menjadi momentum untuk menyatukan aspirasi para pemangku keraton dari berbagai wilayah.
Menurutnya, forum tersebut diharapkan mendorong lahirnya kebijakan yang memberikan perlindungan lebih kuat terhadap warisan budaya keraton. Selain itu, kolaborasi antara keraton dan pemerintah pusat maupun daerah perlu diperkuat untuk mengembangkan ekonomi kreatif dan pariwisata berbasis budaya.
“Keraton-keraton Nusantara adalah akar persatuan bangsa Indonesia. Melalui sarasehan ini, kami ingin mengajak semua pihak bersama-sama mendorong pembentukan kerangka hukum yang melindungi warisan leluhur, sekaligus menjadikan Jakarta sebagai jendela utama untuk memperkenalkan keindahan budaya Nusantara kepada dunia,” tuturnya.
Sarasehan mengangkat dua tema utama, yakni peran strategis keraton dalam menjaga persatuan bangsa dan urgensi Undang-Undang Perlindungan dan Pelestarian Budaya Keraton Nusantara, serta upaya mewujudkan Jakarta sebagai etalase budaya Nusantara menjelang peringatan lima abad Jakarta.
Sejumlah narasumber dari kementerian, pemerintah daerah, akademisi, dan pemangku adat akan menyampaikan pandangan mengenai pelestarian budaya keraton dan pengembangan kebudayaan Jakarta. Hasil pembahasan akan dirumuskan menjadi rekomendasi bagi pemerintah, termasuk usulan pengesahan undang-undang perlindungan dan pelestarian budaya keraton.
Rangkaian kegiatan juga akan diwarnai kehadiran para raja dan sultan dalam Karnaval Sarendo-Rendo di Bundaran Hotel Indonesia pada 18 Oktober 2026. Partisipasi mereka dalam perhelatan bernuansa Betawi tersebut diharapkan memperlihatkan keberagaman budaya yang hidup berdampingan di Jakarta.
Kegiatan ini diselenggarakan melalui kerja sama dengan Kementerian Dalam Negeri, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Kementerian Ekonomi Kreatif, Kementerian Pariwisata, serta pemangku kepentingan lainnya.
Melalui forum tersebut, para pemangku keraton diharapkan dapat menyatukan langkah untuk menjaga warisan leluhur sekaligus memperkuat kontribusi kebudayaan Nusantara bagi persatuan bangsa dan pengembangan pariwisata Indonesia.