Trending

Siraman dan Jualan Cendol, Tradisi Jawa Membekali Calon Pengantin Menapaki Rumah Tangga

Siraman dan Jualan Cendol, Tradisi Jawa Membekali Calon Pengantin Menapaki Rumah Tangga
Acara siraman bukanlah ritual agama, tetapi menjaga budaya luhur pendahulu dengan memaknai filosofi penyatuan kesucian. ( Foto : Harianto Adi)

Jakarta-Spektroom – Guyuran air membasahi tubuh calon pengantin. Doa dan harapan mengiringi setiap siraman, sementara orang tua bersiap melepas anaknya menuju kehidupan baru.

Namun, dalam rangkaian adat pengantin Jawa, pesan kepada calon mempelai tidak berhenti pada penyucian diri.

Ada pula tradisi jualan cendol dengan alat pembayaran berupa kreweng, kepingan tanah liat yang menjadi bagian dari simbol budaya.

Tradisi jualan cendol dilakukan oleh orang tua pengantin putri selepas prosesi siraman. Cendol dijual menggunakan kreweng, sejenis kepingan tanah liat yang berfungsi sebagai uang dalam prosesi tersebut.

Hasil penjualan kemudian diserahkan kepada anaknya sebagai bekal calon pengantin untuk memulai kehidupan rumah tangga.

Di balik prosesi yang unik ini, tersimpan gambaran tentang peran orang tua dalam mengantarkan anak memasuki babak kehidupan baru. Bekal yang diberikan bukan semata-mata soal materi, tetapi juga menjadi simbol dukungan dan kasih sayang keluarga agar anak mampu menjalani kehidupan berumah tangga dengan kesiapan dan tanggung jawab.

Kolonel Infanteri Satya Harianto yang sedang menikahkan anak laki lakinya di Jakarta, kepada Spektroom, Jumat (16/10/2026), menjelaskan bahwa siraman merupakan tradisi untuk menjaga budaya luhur para pendahulu dengan memahami filosofi yang diwariskan.

“Acara siraman bukanlah ritual agama, tetapi menjaga budaya luhur pendahulu dengan memaknai filosofi penyatuan kesucian,” ujarnya.

Guyuran Air, Simbol Membersihkan Diri.

Siraman merupakan prosesi adat yang umumnya dilaksanakan sehari sebelum pernikahan. Calon pengantin dimandikan atau diguyur air sebagai simbol penyucian diri, baik secara lahir maupun batin, sebelum memasuki kehidupan rumah tangga.

Tradisi ini mengandung harapan agar calon mempelai meninggalkan hal-hal buruk dari masa lalu, menata pikiran, serta mempersiapkan diri menghadapi tanggung jawab baru.

Doa orang tua dan para sesepuh juga menjadi bagian penting dalam mengiringi perjalanan kedua calon pengantin. Dalam prosesi yang dijelaskan Satya Harianto, kelapa turut direndam di dalam wadah air siraman.

Kelapa dipilih karena hampir seluruh bagian pohonnya dapat dimanfaatkan manusia.

Filosofi tersebut menjadi pengingat agar kedua mempelai kelak mampu memberikan manfaat bagi keluarga dan masyarakat. Kehidupan rumah tangga diharapkan tidak hanya membawa kebahagiaan bagi pasangan, tetapi juga menghadirkan kebaikan bagi lingkungan sekitarnya.

Rangkaian adat juga diwarnai sungkeman, ketika calon pengantin memohon maaf dan restu kepada orang tua. (Foto : Harianto Adi).

Bekal dan Restu untuk Dua Mempelai

Rangkaian adat juga diwarnai sungkeman, ketika calon pengantin memohon maaf dan restu kepada orang tua. Momen ini menjadi pengingat bahwa pernikahan bukan sekadar menyatukan dua insan, melainkan juga mempertemukan dua keluarga dengan kebiasaan dan harapan masing-masing.

Orang tua berharap kedua anaknya mampu membangun rumah tangga dengan saling menghormati, berbagi tanggung jawab, serta menjaga kepercayaan. Suami dan istri memiliki peran yang sama penting dalam merawat hubungan, menghadapi persoalan, dan mendukung satu sama lain untuk berkembang.

Pesan agar suami menjaga dan membimbing istri berjalan seiring dengan harapan agar istri juga menjadi pendamping yang saling menguatkan.

Keduanya diharapkan membangun keluarga melalui komunikasi, kesabaran, dan musyawarah, bukan dengan menyerahkan seluruh tanggung jawab kepada satu pihak.

Rangkaian siraman dan jualan cendol dapat dilengkapi dengan berbagai acara lain sesuai situasi, kondisi, serta kebiasaan keluarga yang mempunyai hajat.

Keragaman itu menunjukkan bahwa adat tidak selalu hadir dalam bentuk yang seragam, tetapi tetap membawa nilai yang ingin diwariskan kepada generasi berikutnya.

Pada akhirnya, air siraman akan mengering dan prosesi jualan cendol akan berakhir. Namun, makna di baliknya diharapkan terus hidup. Ada penyucian diri, doa restu, bekal dari orang tua, dan pesan agar kedua mempelai menjalani kehidupan baru dengan saling menjaga.

Tradisi tersebut menjadi pengingat bahwa membangun rumah tangga bukan hanya tentang mempersiapkan pesta pernikahan. Lebih dari itu, pernikahan membutuhkan kesiapan lahir batin, tanggung jawab bersama, dan kesediaan untuk terus menumbuhkan kebaikan sepanjang perjalanan hidup.

Berita terkait