Trending

255 Tahun Pontianak: Kisah Kota yang Tumbuh dan Berkembang dari Persimpangan Dua Sungai

255 Tahun Pontianak: Kisah Kota yang Tumbuh dan Berkembang dari Persimpangan Dua Sungai
Mesdjit Jami Sultan Abdurrahman kini, peninggalan jejak sejarah kota Pontianak. (Foto: Dok Pribadi)

Oleh: Syafaruddin Daeng Usman

Pontianak -Spektroom : Kota Pontianak tidak lahir dalam sekejap. Kota yang menjadi ibu kota Provinsi Kalimantan Barat ini tumbuh dari sebuah permukiman di persimpangan Sungai Kapuas dan Sungai Landak, berkembang menjadi pusat Kesultanan Pontianak, lalu menjelma sebagai kota perdagangan yang mempertemukan beragam suku, budaya, dan bangsa.

Menjelang peringatan Hari Jadi ke-255 Kota Pontianak pada 23 Oktober 2026, perjalanan sejarah tersebut menjadi pengingat bahwa identitas kota ini dibentuk oleh sungai, perdagangan, dan perjumpaan antarkomunitas selama lebih dari dua setengah abad.

Sejarah Pontianak bermula pada 23 Oktober 1771, ketika rombongan Syarif Abdurrahman Alkadrie berlabuh di tepian Sungai Kapuas.

Di kawasan itu, mereka membangun surau yang kelak dikenal sebagai Masjid Jami Sultan Syarif Abdurrahman.

Permukiman kemudian berkembang ke arah daratan, menjadi lokasi berdirinya Istana Kesultanan Pontianak atau Keraton Kadriah.

Tujuh tahun kemudian, pada 1778, Syarif Abdurrahman Alkadrie dinobatkan sebagai Sultan Pontianak.

Sejak saat itu, kesultanan menjadi pusat pemerintahan sekaligus penggerak perkembangan permukiman di kawasan pertemuan dua sungai besar tersebut.

Sungai Menjadi Nadi Kehidupan Kota

Berbeda dengan kota-kota yang tumbuh mengikuti jalur darat, perkembangan awal Pontianak sangat bergantung pada Sungai Kapuas dan Sungai Landak.

Kedua sungai tersebut menjadi jalur utama transportasi, perdagangan, dan mobilitas penduduk.

Permukiman mula-mula terkonsentrasi di sekitar masjid dan keraton. Seiring meningkatnya aktivitas perdagangan, kawasan hunian meluas mengikuti tepian sungai, termasuk Sungai Kapuas Kecil.

Kedatangan pedagang dari berbagai daerah turut memperkaya kehidupan kota.

Mereka membangun permukiman berdasarkan asal-usulnya, antara lain Kampung Bugis, Tambelan, Banjar, Serasan, Sampit, Bangka, Belitung, dan Kuantan.

Nama-nama kampung tersebut menjadi jejak sejarah migrasi sekaligus bukti bahwa Pontianak tumbuh melalui interaksi berbagai komunitas.

Pedagang Melayu, Bugis, Tionghoa, dan Arab memainkan peran penting dalam menggerakkan perekonomian.

Komoditas seperti emas, lada, dan intan menjadikan Pontianak sebagai tempat persinggahan dalam jaringan perdagangan regional.

Tanah Seribu dan Perubahan Wajah Pontianak

Perkembangan Pontianak memasuki babak baru ketika VOC memperluas pengaruhnya di kawasan ini.

Pada Juli 1779, Willem Adriaan Palm datang sebagai komisaris VOC dan berhasil membuka perwakilan dagang dengan dukungan kesepakatan bersama Sultan Pontianak.

Kawasan di seberang keraton kemudian digunakan sebagai tempat kegiatan orang Belanda dan dikenal dengan nama Tanah Seribu atau "Duizend Vierkanten Paal". Perjanjian politik antara VOC dan Sultan Pontianak ditandatangani pada 5 Juli 1779.

Kehadiran Belanda mendorong perubahan orientasi perkembangan kota.

Jika sebelumnya kegiatan pemerintahan dan permukiman terpusat di sekitar keraton, kawasan seberang mulai berkembang menjadi pusat aktivitas baru.

Parit-parit yang menghubungkan permukiman dengan Sungai Kapuas turut membentuk pola kehidupan masyarakat.

Ketika kekuasaan kolonial semakin menguat pada abad ke-19, kantor dan tangsi permanen mulai dibangun, mempertegas perubahan tata ruang Pontianak.

Warisan Kota Seribu Parit

Selain dua sungai utama, kondisi geografis Pontianak yang berupa dataran rendah melahirkan jaringan parit yang membentang hingga kawasan pedalaman.

Parit bukan sekadar saluran air, melainkan bagian dari sistem transportasi, pembentukan permukiman, dan kehidupan sosial masyarakat.

Sebutan Kota Seribu Parit merekam hubungan erat antara manusia dan lingkungan perairan.

Nama-nama kampung dan parit, seperti Kampung Bugis, Kampung Tambelan, Kampung Sampit, serta Parit Kampung Yusuf Saigon, juga menyimpan jejak para tokoh dan komunitas yang ikut membangun kota.

Menjelang usia ke-255 tahun, sejarah Pontianak menunjukkan bahwa kota ini tumbuh bukan hanya karena keberadaan kesultanan, tetapi juga berkat perdagangan, migrasi, dan kerja bersama masyarakat dari beragam latar belakang.

Sungai, keraton, masjid, kampung, dan parit menjadi bagian dari perjalanan panjang yang membentuk wajah Pontianak hingga hari ini.

Memahami sejarah tersebut bukan semata-mata mengenang masa lalu. Lebih dari itu, sejarah menjadi pijakan untuk merawat warisan kota, menjaga keberagaman, dan meneruskan semangat para pendahulu dalam membangun Pontianak sebagai kota yang terus berkembang tanpa kehilangan akar budayanya.

(Syafaruddin Daeng Usman adalah Sejarawan Kalbar)

Berita terkait

PLN Gandeng Koperasi Merah Putih, Buka Peluang Usaha Baru di Desa

PLN Gandeng Koperasi Merah Putih, Buka Peluang Usaha Baru di Desa

Klaten-Spektroom : Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) berpeluang memperoleh sumber pendapatan baru melalui layanan pembayaran tagihan dan pembelian token listrik. PT PLN (Persero) mengembangkan kemitraan dengan koperasi untuk mendekatkan akses layanan kelistrikan sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat desa. Penguatan kemitraan tersebut ditinjau langsung oleh Wakil Menteri Desa dan Pembangunan Daerah

Karindra, Bian Pamungkas
Pemko Tanjungpinang Punya Sejumlah PR yang Harus Segera Diselesaikan

Pemko Tanjungpinang Punya Sejumlah PR yang Harus Segera Diselesaikan

Tanjungpinang–Spektroom : Wali Kota Tanjungpinang Lis Darmansyah menyebut persoalan air bersih, penanganan kawasan rawan banjir, infrastruktur jalan, dan lapangan kerja masih menjadi pekerjaan rumah Pemerintah Kota Tanjungpinang. “Kita tidak bisa menuntaskan semua persoalan sekaligus, tetapi kita meminimalkan permasalahan,” kata Lis kepada awak media usai mengikuti dialog Tanjungpinang Pagi di RRI

Desmawati, Rafles