P. Ramlee, Bintang Melayu yang Menembus Batas Negara dan Zaman
Catatan Ringan: Syafaruddin Daeng Usman
Pontianak-Spektroom : Ada nama yang sekadar hidup dalam ingatan, tetapi ada pula nama yang menjelma menjadi bagian dari sejarah dan kebudayaan.
P. Ramlee termasuk yang kedua. Penyanyi, aktor, sutradara, sekaligus seniman serba bisa ini bukan hanya milik Malaysia, tempat ia dilahirkan dan berkarya, melainkan juga ikon budaya Melayu yang melintasi batas negara, generasi, dan zaman.
Pada dekade 1950-an, pesona P. Ramlee begitu kuat. Lagu-lagunya akrab di telinga, film-filmnya menjadi tontonan yang dinanti, sementara gaya rambut dan pakaiannya ditiru anak muda.
Magnet itu bekerja di Malaysia, Singapura, hingga Indonesia. Ia bukan sekadar bintang hiburan, melainkan bagian dari denyut kehidupan masyarakat Melayu.
Nama aslinya Teuku Zakaria, putra Teuku Nyak Puteh, seorang pelaut asal Aceh, dan Che Mah Hussein.
Ia lahir di Penang pada 22 Maret 1929, bertepatan dengan Hari Raya Idulfitri.
Dari garis keturunan dan lingkungan tempat tumbuhnya, tersimpan jejak perjumpaan budaya yang kelak turut mewarnai perjalanan keseniannya.
Bakat musik Ramlee tumbuh sejak muda. Ukulele menjadi instrumen pertama yang dikuasainya, sebelum ia mempelajari gitar dan biola dari Kamaruddin, pemimpin sebuah brass band.
Kemampuannya tidak berhenti pada lagu Melayu. Ia juga menguasai keroncong dan bahkan menjuarai kontes keroncong pada Mei 1946.
Pada 1947, huruf P mulai disematkan di depan namanya, diambil dari kata Puteh.
Nama P. Ramlee kemudian menjadi identitas artistik yang melekat kuat dalam sejarah hiburan Asia Tenggara.

Kesempatan besar datang pada Agustus 1948. Ia hijrah ke Singapura setelah mendapat tawaran bermain film dari sutradara B. S. Rajhans di Malay Film Productions.
Debutnya hadir melalui film "Chinta", yang mulai dikerjakannya pada tahun yang sama. Dalam film tersebut, ia memerankan tokoh penjahat sekaligus menjadi penyanyi latar.
Dari sana, perjalanan panjangnya sebagai insan perfilman dimulai. Sepanjang 1948–1972, P. Ramlee terlibat dalam 66 judul film, baik sebagai aktor maupun sutradara.
Film terakhir yang dibintangi sekaligus disutradarainya adalah "Laksamana Do Re Mi", bagian dari rangkaian komedi Do Re Mi.
Kebesaran P. Ramlee juga diakui melalui berbagai penghargaan. Perannya dalam *Anakku Sazali* mengantarkannya meraih penghargaan aktor pria terbaik pada Festival Film Asia keempat di Tokyo, 1957.
Sementara itu, "Pendekar Bujang Lapok" meraih penghargaan film komedi terbaik pada Festival Film Asia di Kuala Lumpur, 1959.
Prestasi berlanjut melalui "Nujum Pak Belalang", yang mendapat penghargaan film komedi terbaik di Tokyo pada 1960, serta "Madu Tiga", yang meraih penghargaan serupa di Taipei pada 1964.
Film "Ibu Mertuaku" juga memperoleh penghargaan penampilan istimewa dalam World Film Festival di Paris pada 1965.
Pengakuan negara datang lebih awal, ketika ia dianugerahi gelar Ahli Mangku Negara (AMN) pada 1964.
Setelah wafat pada 29 Mei 1973 akibat serangan jantung, dalam usia 44 tahun, penghormatan kembali diberikan pemerintah Malaysia pada 1990 melalui Darjah Panglima Setia Mahkota, yang mengantarkannya menyandang gelar Tan Sri.
Di dunia musik, kedekatannya dengan Saloma, penyanyi yang kemudian dikenal sebagai Puan Sri Salmah binti Ismail, melahirkan duet yang dikenang lintas generasi.
Lagu-lagu mereka menjadi bagian dari khazanah musik Melayu. Salah satu karya terakhirnya, "Ayer Mata di Kuala Lumpur", tercipta pada 1973, menjelang akhir hayatnya.
P. Ramlee memang telah lama berpulang. Namun, karya-karyanya tetap hidup melalui lagu yang dinyanyikan kembali, film yang terus ditonton, dan kenangan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Barangkali di situlah letak keabadian seorang seniman: tubuhnya boleh pergi, tetapi karyanya terus menemukan penonton dan pendengar baru.
P. Ramlee bukan hanya legenda masa lalu. Ia adalah bagian dari ingatan bersama masyarakat Melayu, yang pesonanya tak pernah benar-benar kehilangan zaman.
(Diolah dari berbagai sumber oleh Syafaruddin DaEng Usman, sejarawan dan budayawan Kalimantan Barat.)