Trending

Surabaya Raih Penghargaan Adinkes 2026, Perkuat Pengendalian HIV, TBC, dan Malaria

Surabaya Raih Penghargaan Adinkes 2026, Perkuat Pengendalian HIV, TBC, dan Malaria
Surabaya menerima AIDS-TB-Malaria Award 2026 berkat komitmennya membangun sistem pencegahan dan penanganan penyakit libatkan berbagai sektor.( Foto : Diskominfo SBY).

Surabaya-Spektroom : Upaya Pemerintah Kota Surabaya mengendalikan HIV/AIDS, tuberkulosis (TBC), dan malaria mendapat apresiasi dari Asosiasi Dinas Kesehatan Seluruh Indonesia (Adinkes).

Surabaya menerima AIDS-TB-Malaria Award 2026 berkat komitmennya membangun sistem pencegahan dan penanganan penyakit yang melibatkan berbagai sektor.

Penghargaan tersebut diberikan atas sejumlah upaya, mulai dari penguatan layanan kesehatan, perluasan skrining, hingga dukungan anggaran dan keterlibatan masyarakat dalam penanggulangan penyakit menular tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya, dr. Billy Daniel Messakh, mengatakan keberhasilan program tidak hanya bergantung pada fasilitas kesehatan. Dukungan juga datang dari perangkat daerah nonkesehatan, lembaga CSR, Baznas, filantropi, hingga pemerintah kelurahan.

“Pembiayaan tidak hanya dialokasikan melalui Dinkes, tetapi juga mendapatkan dukungan dari perangkat daerah nonkesehatan, CSR, Baznas maupun filantropi. Termasuk dukungan anggaran di tingkat kelurahan,” jelas Billy, Jumat (6/11/2026).

Dalam penanganan HIV/AIDS, Pemkot Surabaya memperluas edukasi dan pemeriksaan terhadap kelompok berisiko, menyediakan layanan tes HIV di puskesmas, rumah sakit dan klinik, serta memastikan akses pengobatan antiretroviral (ARV), konseling, dan pemberian makanan tambahan bagi orang dengan HIV/AIDS (ODHA).

Sementara pengendalian TBC dilakukan melalui skrining aktif, pelacakan kontak erat, terapi pencegahan, serta pendampingan pasien selama pengobatan. Adapun pengendalian malaria diperkuat melalui deteksi dini, pengendalian vektor, pengobatan sesuai standar, dan surveilans.

Hasilnya, sepanjang 2026 Surabaya telah melakukan 99.437 pemeriksaan HIV dengan persentase penemuan kasus 0,82 persen. Untuk TBC, penemuan kasus hingga Oktober mencapai 78,98 persen melalui pelacakan yang melibatkan 63 puskesmas. Sedangkan malaria, Surabaya berhasil mempertahankan status eliminasi tanpa penularan lokal.

Billy menyebut, keterlibatan organisasi masyarakat sipil (OMS) dan kader menjadi salah satu strategi penting untuk menjangkau masyarakat. Mereka turut melakukan edukasi, penjangkauan, serta pendampingan dengan dukungan pembiayaan APBD.

Ke depan, Pemkot Surabaya menargetkan eliminasi HIV/AIDS, TBC, dan malaria pada 2030. Selain memperluas skrining dan pengobatan, pemerintah juga akan meningkatkan keberhasilan terapi serta memperkuat deteksi dini.

Billy menegaskan, upaya tersebut harus dibarengi dengan pengurangan stigma terhadap orang dengan HIV (ODHIV) dan pasien TBC agar masyarakat tidak takut mengakses layanan kesehatan.

“Keberhasilan pengendalian membutuhkan keterlibatan semua pihak. Kami akan terus memperkuat kolaborasi lintas sektor dan meningkatkan edukasi agar target eliminasi pada 2030 dapat tercapai,” pungkasnya.

Berita terkait

Penguatan pembinaan umat, Pembimas Katolik Dorong Kemitraan LP3KD dengan Pemprov Maluku Utara

Penguatan pembinaan umat, Pembimas Katolik Dorong Kemitraan LP3KD dengan Pemprov Maluku Utara

Sofifi-Spektroom : Penguatan pembinaan umat Katolik dan pengembangan kegiatan keagamaan membutuhkan dukungan serta kolaborasi berbagai pihak. Hal ini menjadi salah satu pokok pembahasan dalam silaturahmi Pembimbing Masyarakat (Pembimas) Katolik Kanwil Kementerian Agama Provinsi Maluku Utara, Wenseslaus R.F. Heatubun, bersama pengurus Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Pesparani Katolik Daerah (LP3KD) Provinsi

Nanang Adrany, Pelinus Latuheru